Mengenal Kondisi Delusional dan Cara Mengenalinya

  • 30 Agt 2026 13:04 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Delusional merupakan suatu kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan keyakinan kuat terhadap sesuatu yang tidak nyata. Seseorang yang mengalami kondisi ini akan tetap memegang teguh kepercayaannya meskipun telah diberikan bukti-bukti konkret yang menunjukkan bahwa keyakinan tersebut salah. Hal ini terjadi karena adanya gangguan dalam proses berpikir yang membuat individu sulit membedakan antara realitas dan imajinasi.

Kondisi ini bukan sekadar imajinasi biasa atau kekeliruan sesaat. Ini adalah gejala serius yang sering kali terkait dengan gangguan psikotik seperti skizofrenia atau gangguan delusi. Keyakinan yang muncul biasanya bersifat sangat personal dan tidak sesuai dengan latar belakang budaya atau pendidikan penderita, sehingga dapat memengaruhi perilaku sehari-hari dan cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Melansir dari halodoc.com Terdapat dua ciri utama yang mendasari kondisi ini secara medis. Pertama, keyakinan yang salah secara objektif, seperti merasa sedang diikuti oleh agen rahasia atau memiliki kekuatan super yang tidak masuk akal. Kedua, sifat keyakinan yang tidak fleksibel, di mana penderita sama sekali tidak bisa mengubah sudut pandangnya meski fakta-fakta yang bertentangan telah disajikan secara jelas. Beberapa tanda pendukung yang sering menyertai antara lain mudah tersinggung ketika keyakinannya dipertanyakan, cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, menunjukkan sikap defensif atau kemarahan saat diberi penjelasan logis, serta mengalami kesulitan menjalankan fungsi pekerjaan atau tugas rumah tangga akibat fokus yang berlebihan pada keyakinannya.

Dalam banyak kasus, penderita tetap terlihat normal dalam aspek kehidupan lain yang tidak bersinggungan dengan isi keyakinannya. Kondisi ini juga dapat muncul dalam beberapa bentuk yang berbeda-beda, misalnya keyakinan merasa terus-menerus diawasi atau hendak dicelakai, meyakini dirinya memiliki kekuatan atau kedudukan istimewa yang sebenarnya tidak dimiliki, menganggap kejadian di sekitarnya sebagai pesan yang ditujukan khusus kepada dirinya, atau keyakinan keliru tentang pasangan maupun kondisi tubuhnya sendiri.

Kombinasi faktor biologis seperti ketidakseimbangan senyawa kimia di otak dan riwayat gangguan jiwa dalam keluarga, faktor psikologis, serta tekanan lingkungan seperti stres berat atau isolasi sosial berkepanjangan diyakini turut berperan memunculkan kondisi ini. Penanganannya umumnya memerlukan pendekatan medis profesional, mulai dari pemeriksaan oleh psikiater, terapi obat-obatan, hingga psikoterapi yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan dukungan keluarga yang mendampingi tanpa menghakimi atau mengucilkan penderita.

Jika terdapat anggota keluarga, kerabat, atau rekan yang menunjukkan tanda-tanda keyakinan tidak realistis yang menetap dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis sangat dianjurkan sedini mungkin. Penanganan yang tepat dan cepat dapat membantu penderita menjalani kehidupan yang lebih stabil serta mengurangi dampak gangguan tersebut terhadap dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. (Desita)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....