Jarang Disadari, Ini Dampak Budaya Selalu Online Terhadap Kesehatan Mental

  • 30 Agt 2026 08:52 WIB
  •  Tarakan

RRI. CO. ID, Tarakan - Budaya "selalu online" atau always-on culture memang membawa dampak nyata terhadap kesehatan mental, terutama karena cara kerja otak dan pola hidup manusia belum sepenuhnya siap menghadapi konektivitas tanpa henti. Berikut beberapa alasan utamanya:

1. Otak Tidak Pernah Benar-Benar Beristirahat

Notifikasi yang terus muncul membuat otak selalu dalam kondisi siaga, seolah harus merespons sesuatu kapan saja. Kondisi ini membuat sistem saraf sulit masuk ke mode relaksasi, yang lama-kelamaan bisa memicu kecemasan kronis dan kelelahan mental.

2. Perbandingan Sosial yang Terus-Menerus

Media sosial membuat orang mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain—baik soal pencapaian, penampilan, maupun gaya hidup. Paparan konten ini secara terus-menerus bisa menurunkan rasa percaya diri dan memicu perasaan "hidupku kurang" meski sebenarnya tidak realistis untuk dibandingkan.

3. FOMO (Fear of Missing Out)

Ketika seseorang terbiasa online sepanjang waktu, muncul rasa cemas jika tertinggal informasi, tren, atau momen sosial tertentu. FOMO ini mendorong orang untuk terus mengecek ponsel, menciptakan siklus kecemasan yang berulang.

4. Gangguan Pola Tidur

Penggunaan gawai hingga larut malam, ditambah paparan cahaya biru dari layar, dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang penting untuk tidur berkualitas. Kurang tidur sendiri erat kaitannya dengan meningkatnya risiko stres, mudah tersinggung, dan gangguan mood.

5. Batas Kerja dan Kehidupan Pribadi Menjadi Kabur

Budaya selalu terhubung membuat banyak orang merasa harus tetap "siap sedia" untuk pekerjaan, bahkan di luar jam kerja. Hal ini bisa memicu kelelahan berkepanjangan (burnout) karena waktu istirahat yang seharusnya untuk memulihkan energi justru terus terganggu oleh tuntutan digital.

6. Interaksi Sosial yang Dangkal

Meski terhubung dengan banyak orang secara online, interaksi semacam ini sering kali kurang mendalam dibanding interaksi tatap muka. Akibatnya, seseorang bisa merasa lebih terhubung secara digital, tapi justru lebih kesepian secara emosional.

7. Validasi Diri Bergantung pada Respons Orang Lain

Kebiasaan mengecek likes, komentar, atau reaksi dari unggahan bisa membuat rasa percaya diri seseorang jadi bergantung pada validasi eksternal, bukan dari penilaian diri sendiri yang lebih stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....