Food Noise, ketika Otak Tak Bisa Berhenti Memikirkan Makanan
- 27 Agt 2026 11:21 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Pernakah kamu merasa pikiran terus-menerus melayang ke makanan, bahkan ketika sedang bekerja, mengendarai kendaraan, atau berada di tengah rapat penting? Dilansir dari Nutrition & Diabetes (Nature), Kondisi ini kini dikenal luas dengan istilah food noise, sebuah fenomena yang tengah ramai dibahas oleh kalangan peneliti kesehatan dan gizi di seluruh dunia.
Bukan Sekadar Lapar Biasa
Food noise menggambarkan suara atau "kebisingan" mental berupa pikiran tentang makanan yang muncul terus-menerus, terkadang terasa mengganggu dan sulit dikendalikan. Berbeda dengan rasa lapar biasa yang muncul karena tubuh benar-benar membutuhkan energi, food noise justru bisa muncul meski seseorang dalam kondisi kenyang.
Para ilmuwan menyebut kondisi ini berkaitan erat dengan apa yang selama ini dikenal sebagai hedonic hunger, yaitu dorongan untuk makan demi kenikmatan semata, bukan karena kebutuhan kalori. Konsep ini sebenarnya sudah diteliti sejak sekitar tahun 2007, jauh sebelum istilah food noise populer di media sosial.
Peran Otak dan Hormon
Fenomena ini ternyata memiliki dasar biologis yang cukup kompleks. Ketika seseorang melihat, mencium, atau bahkan sekadar membayangkan makanan, sejumlah area otak akan aktif, termasuk bagian yang berkaitan dengan sistem penghargaan (reward) dan pengaturan nafsu makan. Pada sebagian orang, jalur otak ini bereaksi jauh lebih kuat terhadap rangsangan makanan, sehingga menimbulkan keinginan makan yang intens dan sulit diabaikan.
Selain faktor otak, hormon turut memainkan peran penting. Ghrelin, yang dikenal sebagai hormon pemicu rasa lapar, dapat membuat rangsangan makanan terasa jauh lebih menggoda. Sebaliknya, hormon leptin yang seharusnya memberi sinyal kenyang, kadang tidak bekerja optimal pada sebagian individu sehingga sinyal "berhenti makan" menjadi lebih lemah.
Sorotan Setelah Kemunculan Obat Penurun Berat Badan
Istilah food noise semakin populer sejak tahun 2022, seiring meningkatnya penggunaan obat-obatan golongan GLP-1 seperti semaglutide untuk manajemen berat badan. Banyak pengguna melaporkan bahwa "kebisingan" pikiran soal makanan yang selama ini mereka rasakan tiba-tiba mereda drastis setelah menjalani terapi tersebut.
Fenomena inilah yang kemudian mendorong para peneliti untuk lebih serius mengkaji food noise secara ilmiah. Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition & Diabetes menyoroti bahwa food noise dapat memengaruhi beban kognitif dan kualitas hidup seseorang, serta disebut-sebut menjadi salah satu penyebab kegagalan banyak orang dalam menjalani program penurunan berat badan. Meski perhatian publik terhadap topik ini terus meningkat, para peneliti mencatat bahwa definisi klinis yang baku serta metode pengukuran food noise yang terstandardisasi masih terus dikembangkan hingga saat ini.
Bukan Masalah Kemauan, Tapi Biologi
Temuan-temuan ini penting karena selama bertahun-tahun banyak orang menganggap kesulitan mengontrol nafsu makan semata soal kurangnya kedisiplinan diri. Padahal, riset menunjukkan bahwa intensitas food noise sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, kondisi berat badan, pola tidur, tingkat stres, hingga keseimbangan hormon dalam tubuh bukan sekadar soal niat atau kontrol diri semata.
Dengan semakin banyaknya penelitian yang menyoroti sisi biologis dari fenomena ini, food noise diharapkan bisa dipahami secara lebih objektif, sehingga penanganan gangguan pola makan dapat dilakukan dengan pendekatan medis yang lebih tepat, bukan sekadar menyalahkan kemauan individu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....