Musim Kemarau Panjang 2026, Ini Penyakit yang Perlu Diwaspadai Masyarakat

  • 17 Agt 2026 10:06 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini berlangsung pada Juli hingga September, dengan cakupan wilayah yang meluas dari sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kondisi kemarau yang diprediksi lebih panjang dan lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya ini membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap sejumlah gangguan kesehatan yang biasa muncul di musim kering.

Suhu udara yang meningkat, sinar matahari yang lebih terik, serta udara yang kering dan berdebu membuat daya tahan tubuh lebih mudah terganggu. Berikut sejumlah penyakit yang patut diwaspadai selama musim kemarau berlangsung.

1. Dehidrasi dan Heat Stroke

Cuaca panas berkepanjangan membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan lewat keringat. Jika asupan air tidak mencukupi, risiko dehidrasi meningkat, bahkan bisa berlanjut ke heat stroke atau sengatan panas, kondisi darurat medis akibat suhu tubuh yang naik drastis tanpa ada kompensasi cairan yang memadai. Kelompok lansia, ibu hamil, anak-anak, dan orang dengan penyakit penyerta menjadi kelompok yang paling rentan.

2. Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)

Udara yang kering dan berdebu, ditambah potensi kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat saat kemarau, dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan. Paparan udara yang tercemar dalam waktu lama berisiko menimbulkan ISPA hingga gangguan pernapasan lain yang lebih serius.

3. Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria

Meski lebih identik dengan musim hujan, DBD justru berpotensi meningkat di musim kemarau. Kebiasaan masyarakat menampung air di ember, bak mandi, atau drum untuk berjaga-jaga saat kekeringan, jika tidak ditutup dan dibersihkan rutin, dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Genangan air yang mengering lalu terisi kembali saat hujan sesekali turut menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk bertelur, sehingga risiko malaria juga perlu diwaspadai di beberapa daerah.

4. Diare, Kolera, dan Tifoid

Ketersediaan air bersih yang menipis saat kemarau sering memaksa masyarakat mengandalkan sumber air seadanya, seperti sumur dangkal yang kualitasnya menurun. Penurunan kualitas sanitasi ini membuka peluang munculnya penyakit yang ditularkan lewat air dan makanan, seperti diare, kolera, dan tifoid.

5. Leptospirosis

Selain penyakit berbasis air lainnya, leptospirosis turut menjadi ancaman ketika sanitasi memburuk, terutama di wilayah yang mengandalkan sumber air yang sudah tercemar oleh bakteri dari kotoran hewan.

Langkah Pencegahan

Dilansir dari Kemenkes menganjurkan sejumlah langkah sederhana untuk mengantisipasi risiko-risiko di atas, di antaranya:

  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan rutin minum air putih, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Menggunakan masker saat kualitas udara memburuk dan membatasi aktivitas luar ruangan pada kondisi tersebut.
  • Menerapkan 3M Plus untuk mencegah DBD: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
  • Menjaga kebersihan rumah dengan mengelap permukaan berdebu menggunakan kain basah, bukan menyapu kering yang justru menerbangkan debu.
  • Menghindari aktivitas berat di bawah sinar matahari langsung, khususnya pada rentang pukul 11.00–15.00.

Dengan memahami risiko-risiko ini sejak awal, masyarakat diharapkan bisa lebih siap menjaga kesehatan diri dan keluarga selama musim kemarau berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....