Lacak HIV/AIDS, Dinkes Tarakan Terapkan Strategi Berbasis Hotspot
- 31 Jul 2026 20:55 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan — Penanganan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Kota Tarakan terus bergerak dinamis.
Guna memaksimalkan screening dan penemuan kasus secara merata, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan menerapkan strategi khusus berbasis pemetaan zona rentan (hotspot), alih-alih terpaku pada batasan wilayah administratif puskesmas.
Kepala Dinkes Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, menjelaskan bahwa langkah pengerahan tenaga medis tidak lagi didasarkan pada lokasi geografis puskesmas, melainkan pembagian titik risiko tinggi (hotspot). Hal ini dilakukan untuk menghindari ketimpangan beban kerja maupun capaian screening antar-puskesmas.
"Puskesmas untuk penanganan HIV tidak terbagi berdasarkan wilayah kerja administratifnya. Tempat-tempat hiburan malam atau titik kumpul (hotspot) kami bagi secara proporsional. Jadi, tempat A digarap puskesmas ini, tempat B oleh puskesmas lain. Ini agar capaian screening merata dan tidak ada puskesmas yang timpang," ujar dr. Devi.
Menanggapi adanya peningkatkan tren temuan kasus positif HIV di Tarakan, Dinkes menegaskan bahwa kondisi tersebut sejatinya berbanding lurus dengan masifnya cakupan pemeriksaan yang dilakukan tim medis di lapangan.
Semakin banyak warga atau kelompok rentan yang diperiksa, semakin besar pula potensi kasus terdeteksi secara dini.
Dari sisi demografi, rentang usia produktif khususnya kelompok usia 20-an tahun, masih mendominasi temuan kasus baru. Sementara jika dilihat dari demografi jenis kelamin, kelompok laki-laki mencatatkan angka dominasi tertinggi, dengan pola penularan utama dominan melalui hubungan seksual berisiko.
Meski screening terus digencarkan, Devi tidak memungkiri adanya barikade tantangan di lapangan. Salah satu tantangan terberat yang dihadapi petugas kesehatan adalah akses masuk ke komunitas berisiko tinggi, serta stigmata yang masih membayangi lingkungan kerja.
Beberapa komunitas maupun pengelola tempat kerja kerap melayangkan penolakan saat tim kesehatan hendak melakukan tindakan intervensi atau screening berkala.
"Tantangan di lapangan terkadang ada penolakan, baik dari kelompok komunitas tertentu maupun pihak tempat kerja. Ada kekhawatiran dan ketakutan tersendiri dari mereka jika nantinya ditemukan kasus positif di lingkungan tersebut," ungkap Devi.
Guna mengatasi hambatan tersebut, Dinkes Tarakan terus mengedepankan pendekatan persuasif, edukasi yang humanis, serta pemahaman terkait kerahasiaan data pasien. Dinkes berharap seluruh lapisan masyarakat dan pengelola usaha dapat semakin terbuka serta kooperatif, mengingat deteksi dini merupakan kunci utama dalam memutus mata rantai penularan HIV/AIDS di Tarakan. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....