Gangguan Ginjal "Hantui" Anak Muda Tarakan, Dinkes Beri Peringatan Keras

  • 10 Jul 2026 08:09 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN: Penyakit gagal ginjal yang dahulu identik sebagai "penyakit masa tua," kini mulai bergeser menyerang generasi muda.

Fenomena mengkhawatirkan ini bukan lagi sekadar isapan jempol, melainkan fakta medis yang mulai ditemukan di fasilitas kesehatan kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti mengungkapkan bahwa puskesmas dan rumah sakit setempat mulai mendapati peningkatan kasus anak-anak muda yang datang dengan keluhan gangguan fungsi ginjal. Bahkan, beberapa di antaranya sudah harus menjalani prosedur cuci darah (hemodialisis).

"Kalau dulu yang gangguan ginjal usia sudah tua, lanjut usia, nah saat ini ditemukan begitu. Sebenarnya bukan di Tarakan saja. Jadi yang di rumah sakit itu ditemukan banyak anak-anak kita mengalami gangguan ginjal. Karena itu, karena makanan," ujar Devi Ika Indriarti, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, biang kerok utama dari fenomena ini adalah pergeseran pola makan dan gaya hidup modern. Anak-anak muda saat ini sangat akrab dengan makanan cepat saji serta minuman kekinian yang tinggi gula.

Beban kerja ginjal menjadi berkali-kali lipat lebih berat ketika harus menyaring zat-zat dari makanan cepat saji secara terus-menerus. Kondisi ini kemudian memicu munculnya hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes di usia muda. Dua penyakit yang menjadi jembatan utama menuju gagal ginjal kronis.

"Makanan instan dan minuman yang terlalu manis dikonsumsi terlalu sering. Padahal, tubuh kita membutuhkan makanan kaya serat seperti buah dan sayur," ungkap Devi.

Mirisnya, deteksi dini sering kali terlambat. Banyak pasien muda yang datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi ginjalnya sudah mengalami kerusakan, sehingga tindakan agresif seperti cuci darah tidak bisa dihindari.

Menangani penyakit ginjal pada anak-anak memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dibanding pasien dewasa. Devi menjelaskan bahwa proses pengobatan menuntut konsistensi diet yang sangat ketat dan pembatasan aktivitas fisik.

"Anak-anak itu masanya lari-lari dan aktif. Membuat mereka konsisten menjaga makanan dan membatasi aktivitas berat itu sangat susah. Padahal kalau dipaksakan, kerja ginjalnya akan semakin berat," jelas Devi.

Selain faktor psikologis anak, Tarakan juga menghadapi tantangan fasilitas medis. Meski dokter spesialis anak sudah tersedia di rumah sakit, namun dokter spesialis anak yang khusus mendalami bidang ginjal (nefrologi anak) saat ini belum ada.

Mengingat rumitnya proses pengobatan, Dinkes Tarakan memilih untuk tidak berfokus pada hilir (pengobatan), melainkan memperketat hulu (pencegahan). Strategi utama yang digenjot saat ini adalah tindakan promotif dan preventif.

Dr. Devi enggan membeberkan angka pasti jumlah anak yang terkena gagal ginjal demi menghindari kepanikan publik, namun ia menegaskan tren kenaikan itu nyata dan harus dihentikan lewat perubahan perilaku masyarakat.

Dinkes Tarakan pun terus menggencarkan sosialisasi Komunikasi, Iformasi, dan Edukasi (KIE) mengenai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Meliputi membatasi konsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula, menyiasati menu harian agar anak-anak tetap mengonsumsi buah dan sayur setiap hari, memastikan kecukupan istirahat dan konsumsi air putih.

Devi juga mengharapkan peran aktif masyarakat untuk terus mengedukasi anak-anaknya agar menjalankan pola hidup sehat.

"Kami butuh partisipasi aktif masyarakat. Tolong, pengetahuan tentang hidup sehat ini jangan cuma disimpan atau jadi sekadar tahu saja, tapi benar-benar diterapkan di rumah demi masa depan anak-anak kita," pungkas dr. Devi. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....