Benarkah Mandi Malam Sebabkan Flu? Ini Penjelasan Medis dr. Nada
- 03 Mei 2026 08:38 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Mitos mengenai mandi malam dan kehujanan sebagai penyebab utama flu masih melekat kuat di tengah masyarakat Indonesia. Namun, dr. Ingolda Nada Nabilah secara tegas meluruskan bahwa kedua hal tersebut bukanlah penyebab langsung dari penyakit flu.
Dalam siaran RRI Tarakan, dr. Nada menjelaskan bahwa flu murni disebabkan oleh infeksi virus, bukan karena faktor cuaca atau air. Mandi malam atau kehujanan hanya menjadi faktor pemicu turunnya daya tahan tubuh yang memudahkan virus untuk masuk.
"Virus influenza itu menular melalui droplet atau percikan air liur, bukan karena air hujan," ungkap dr. Nada. Ia menambahkan bahwa perubahan cuaca yang ekstrem memang memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi, sehingga imun bisa menurun.
Dokter Nada juga membedah mitos lain, seperti anggapan bahwa minum es dapat memperparah flu. Menurutnya, minum es hanya memberikan reaksi tidak nyaman pada tubuh saat suhu badan sedang tinggi, namun tidak secara langsung merusak organ.
Terkait pengobatan tradisional seperti kerokan dan pijat, dr. Nada menyebut hal itu bisa membuat pasien merasa lebih nyaman secara psikologis. Ketika perasaan menjadi lebih tenang dan bahagia, daya tahan tubuh secara tidak langsung akan meningkat untuk melawan virus.
Satu hal yang menjadi sorotan adalah pentingnya vaksinasi influenza bagi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih. Berbeda dengan vaksin wajib lainnya, vaksin influenza sangat dianjurkan untuk dilakukan setahun sekali secara rutin.
"Vaksin influenza bukan sekali seumur hidup, tapi harus diulang setiap tahun karena virus flu terus bermutasi," jelasnya. Vaksin ini sangat membantu meminimalisir risiko gejala berat, meskipun tidak menjamin seseorang bebas dari bersin selamanya.
Ia juga meluruskan anggapan miring mengenai efek samping vaksin COVID-19 yang sering dituding membuat tubuh jadi gampang sakit. Menurut dr. Nada, faktor gaya hidup dan kelelahan kerja sering kali lebih berpengaruh dibandingkan sisa efek vaksin.
Masyarakat diminta untuk kembali memperketat kebiasaan mencuci tangan yang mulai longgar pasca pandemi. Penggunaan hand sanitizer dan sabun tetap menjadi senjata utama dalam memutus rantai penularan virus influenza di tempat umum.
Sebagai penutup, dr. Nada berpesan agar masyarakat segera memeriksakan diri jika gejala flu tidak kunjung membaik setelah 7 hingga 14 hari. Waspadai alarm tubuh seperti sesak napas atau gangguan kesadaran yang merupakan indikasi komplikasi serius.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....