Mengapa Narkoba Sulit Dilepaskan? Penjelasan Penyakit Otak Kronis
- 31 Mar 2026 13:44 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN – Banyak orang bertanya mengapa seorang pecandu sangat sulit untuk berhenti meskipun mereka sudah tahu dampak buruknya. Psikolog Klinis Rahma Fitra menjelaskan bahwa adiksi zat bukan sekadar masalah moral atau kurangnya kemauan, melainkan sebuah "penyakit otak kronis". Zat narkoba telah mengubah struktur dan kimiawi otak sedemikian rupa sehingga area yang mengatur evaluasi dan kontrol diri menjadi lemah.
Saat seseorang sudah kecanduan, otak tidak lagi mampu memproduksi hormon kebahagiaan secara alami dalam jumlah yang cukup. Hal ini membuat penderitanya merasa tersiksa secara emosional jika tidak ada zat yang masuk ke tubuhnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai penurunan fungsi saraf, di mana rasa sakit menjadi sulit ditoleransi dan keputusan yang diambil sering kali hanya berdasarkan dorongan impulsif untuk mendapatkan zat.
"Adiksi zat ini merupakan satu penyakit otak kronis. Pengguna zat narkoba ini mengalami perubahan pada struktur di otak dan perubahan kimiawi otaknya," papar Rahma Fitra secara ilmiah.
Rahma juga menekankan bahwa istilah yang lebih tepat bagi mantan pengguna bukanlah "sembuh" total, melainkan "pulih". Hal ini karena dorongan untuk memakai (craving) bisa muncul kapan saja di masa depan jika ada pemicu tertentu. Oleh karena itu, pengelolaan diri seumur hidup sangat diperlukan agar mereka tetap berada dalam jalur pemulihan dan tidak kembali ke kebiasaan lama.
"Sepulih-pulihnya seseorang, dia pun masih bergulat dengan dorongan ingin pakai. Makanya disebut tidak bisa sembuh, tapi bisanya pulih," jelas Rahma mengenai sifat ketergantungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....