Perjuangan Melawan "Reaksi Putus Zat" di Awal Masa Pemulihan
- 31 Mar 2026 17:42 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN – Berhenti dari narkoba bukanlah proses yang instan, melainkan sebuah perjuangan fisik yang menyiksa, terutama pada fase awal atau yang dikenal sebagai reaksi putus zat (sakau). Ilham mantan pengguna narkoba berbagi kisah betapa beratnya hari-hari pertama tanpa narkoba setelah bertahun-tahun tubuhnya bergantung pada zat stimulan. Ia harus bergelut dengan kebingungan mental dan rasa sakit fisik yang hampir membuatnya menyerah.
Reaksi putus zat terjadi karena tubuh tidak lagi mendapatkan stimulus hormon kebahagiaan buatan dari narkoba, sehingga sistem saraf mengalami gejolak hebat. Ilham menggambarkan fase ini sebagai masa di mana ia merasa hampir kehilangan kewarasan. Namun, tekad untuk keluar dari lingkaran hitam membuatnya memilih untuk "melawan" rasa sakit tersebut daripada kembali mengonsumsi zat untuk sekadar meredakannya.
"Hari pertama itu saya tidak mencoba (memakai) itu kayak mau gila saya itu. Kadang saya bicara sendiri, saya lawan," ungkap Ilham menceritakan beratnya masa awal berhenti.
Proses perlawanan terhadap keinginan memakai (craving) ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ilham mengaku membutuhkan waktu sekitar dua tahun setengah untuk benar-benar merasa stabil dan bebas dari tarikan kuat narkoba. Keberhasilannya melewati fase kritis ini menjadi bukti bahwa komitmen pribadi adalah kunci utama dalam menaklukkan ketergantungan yang sudah bersifat kronis.
"Saya lawan itu sekitar 2 tahunan setengah. Wah itu luar biasa banget... Saya bicara sama diri sendiri, saya lawan: 'Sudahlah kalau begitu terus kamu enggak ada gunanya'," tegas Ilham mengenai metodenya bertahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....