Revisi Gambar dan Penggunaan AI Bukan Ancaman Desainer

  • 31 Jul 2026 14:50 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Tantangan dalam industri kreatif desain grafis, khususnya revisi yang kerap berulang dari klien dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) bukan menjadi ancaman desainer. Hal itu disampaikan Syawal, seorang graphic designer dalam program KAPA di Pro2 RRI Tarakan Kamis, (30/7/2026).

Ia menilai persoalan revisi menjadi salah satu tantangan yang paling sering dihadapi para desainer, terutama yang baru merintis karier di bidang ini. Menurutnya, kesalahan yang sering dilakukan desainer pemula adalah membuat karya sesuai dengan selera pribadi, bukan berdasarkan kebutuhan dan keinginan klien.

Kebiasaan ini, kata dia, kerap menjadi penyebab utama munculnya revisi berkali-kali karena hasil akhir desain dianggap belum sesuai dengan visi yang diharapkan oleh klien. “Kita suka merasa banyak revisi desain, kadang tanpa sadar kita membuat seperti yang kita mau bukan seperti yang client mau," ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Syawal menyarankan agar setiap desainer menetapkan standar operasional prosedur atau SOP dalam pengerjaan revisi, termasuk menentukan batas waktu pengerjaan setiap tahap perbaikan.

Langkah ini penting agar proses kerja menjadi lebih efisien dan tidak berlarut-larut, sekaligus menjaga produktivitas desainer dalam menangani banyak proyek sekaligus.

Beralih ke topik perkembangan teknologi, Syawal turut menanggapi pesatnya kemajuan kecerdasan buatan atau AI yang kini mulai merambah dunia desain grafis. Ia berpandangan bahwa AI sebaiknya dijadikan sebagai alat bantu untuk mempermudah pekerjaan, bukan dipandang sebagai ancaman yang dapat menggantikan profesi desainer grafis secara keseluruhan.

Syawal menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan teknologi terbaru sebagai kunci utama bertahan di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin pesat. Selain itu, pentingnya keterampilan berkomunikasi yang baik dengan klien.

Kualitas hasil kerja AI sangat bergantung pada kemampuan penggunanya dalam mengarahkan dan memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. Dari pengalaman yang dibagikan, Syawal berharap para desainer, khususnya pemula, dapat menjadikan disiplin dalam mengelola revisi serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi sebagai dua kunci penting dalam membangun profesionalisme.

Kombinasi keduanya akan membantu desainer bekerja lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas maupun hubungan baik dengan klien. (Desita)

FOMO Pintu Masuk Narkoba di Kalangan Remaja

RRI.CO.ID, Tarakan : Fenomena FOMO (Fear Of Missing Out) atau rasa takut tertinggal tren di kalangan generasi muda disorot sebagai salah satu pintu masuk yang membuat remaja terjerumus ke dunia narkoba.

Hal ini diungkapkan oleh Mia Alisha, S.KM, Penyuluh Narkoba Ahli Pertama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tarakan, saat membahas persoalan penyalahgunaan narkotika yang kian mengkhawatirkan di kalangan anak muda dalam program SPADA Pro2 RRI Tarakan, Kamis (30/7).

Menurutnya, tidak sedikit remaja di Tarakan yang mulai mencoba zat berbahaya bukan karena rasa ingin tahu semata, melainkan akibat ajakan teman sebaya. Dorongan untuk dianggap keren serta kekhawatiran tersingkir dari lingkaran pergaulan kerap menjadi alasan utama terjebak dalam penyalahgunaan narkoba.

“biasanya mereka bukan karena keinginan sendiri,tapi karena diajak agar diterima dilingkungannya,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi tersebut, BNN Kota Tarakan menekankan pentingnya keberanian anak muda untuk berkata tidak terhadap pengaruh negatif di sekitarnya. Selain itu, generasi muda juga diimbau agar lebih selektif dalam menyaring konten media sosial, mengingat arus informasi dan tren di dunia maya dapat dengan mudah membawa pengaruh buruk jika tidak disikapi secara bijak.

Di sisi lain, peran komunikasi keluarga dinilai sangat krusial dalam upaya pencegahan. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak dapat membantu mendeteksi secara dini perubahan perilaku yang mencurigakan. Sekaligus memberikan dukungan moral agar anak tidak merasa sendirian dalam menghadapi tekanan pergaulan.

Sebagai langkah pencegahan yang lebih terstruktur, BNN Kota Tarakan turut menggencarkan program edukasi dan tes urin sample di sekolah-sekolah. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan dini terhadap generasi penerus bangsa agar terhindar dari dampak buruk penyalahgunaan narkotika yang dapat merusak masa depan mereka.

Melalui pendekatan yang ramah dan suportif, BNN Kota Tarakan berharap para pemuda mampu membangun kepercayaan diri tanpa harus mengikuti tren yang berpotensi merusak kesehatan fisik maupun mental. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan lembaga terkait dinilai menjadi kunci utama dalam melindungi generasi muda dari ancaman bahaya narkoba. (Desita)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....