Menyambut Era Green Jobs: Peluang 1,8 Juta Lapangan Kerja Baru di Ekonomi Sirkuler
- 25 Apr 2026 18:30 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Sektor ketenagakerjaan Indonesia tengah bersiap menghadapi transformasi besar seiring munculnya tren green jobs atau pekerjaan hijau dalam ekosistem ekonomi sirkuler. Fenomena ini diprediksi tidak hanya menjadi solusi bagi isu lingkungan, tetapi juga menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja muda.
Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Isnarti Hasan, mengungkapkan bahwa masalah pengangguran masih menjadi tantangan utama, baik karena keterbatasan kesempatan maupun ketidaksesuaian kompetensi (mismatch). Oleh karena itu, pemerintah mendorong pencari kerja untuk mulai melirik sektor ekonomi hijau yang lebih spesifik, inovatif, dan padat teknologi.
Dalam webinar penyuluhan jabatan yang digelar Kemnaker, Vice President Corporate Culture PT PLN (Persero), Sahrial Amin, memaparkan data World Economic Forum yang menyebut bahwa 44 persen keterampilan (skill) akan kedaluwarsa atau berubah dalam lima tahun ke depan. Hal ini dipicu oleh tiga faktor utama: digitalisasi dan AI, transisi energi dari fosil ke energi terbarukan, serta tekanan perubahan iklim.
“Pertanyaannya bukan lagi kita mau kerja di mana, tapi siap atau tidak kita beradaptasi. Perubahan terjadi begitu cepat,” ujar Sahrial dalam paparannya.
Ia menambahkan bahwa transisi ekonomi hijau diproyeksikan menciptakan 24 juta lapangan kerja baru secara global pada 2030 menurut data ILO, sementara di Indonesia sendiri peluangnya mencapai 1,7 hingga 1,8 juta tenaga kerja.
Sahrial meluruskan persepsi bahwa green jobs hanya diperuntukkan bagi lulusan teknik atau lingkungan. Menurutnya, ekosistem hijau seperti kendaraan listrik dan energi terbarukan membutuhkan lintas kompetensi, mulai dari ahli hukum untuk regulasi energi, lulusan ekonomi untuk green finance dan carbon market, hingga ahli komunikasi untuk edukasi publik. Lulusan psikologi pun berperan penting dalam transformasi budaya dan pola pikir hijau (green mindset) di perusahaan.
Namun, tantangan besar masih membayangi, yakni adanya kesenjangan (gap) kurikulum antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri global. Sahrial menyarankan para mahasiswa dan lulusan baru untuk aktif melakukan skill upgrade secara mandiri di luar kampus, seperti melalui sertifikasi, magang, maupun bergabung dalam komunitas pekerja hijau. Keterampilan seperti literasi data, kesadaran keberlanjutan (ESG), dan kemampuan kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci utama untuk bersaing.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya memiliki mentalitas "extra mile"—yaitu kemauan untuk memberikan nilai tambah dan berpikir dua langkah ke depan melebihi deskripsi pekerjaan standar.
"Masa depan adalah milik mereka yang bersiap. Karir yang besar dibangun melalui langkah-langkah kecil yang konsisten," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....