Era Destruktif, Dosen dan Peneliti Diminta Manfaatkan AI
- 25 Apr 2026 16:29 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI gelar webinar "Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Mendukung Riset dan Publikasi" pada Rabu (22/4/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan serta strategi praktis bagi para dosen, peneliti, dan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi AI secara bijak dan efektif guna mendukung kemajuan ilmu pengetahuan.
Ketua Tim Kerja Ekosistem Pendidik, Yoga Dwi Aryanda, menekankan bahwa teknologi AI kini telah menjadi bagian krusial dalam ekosistem pendidikan tinggi. AI dinilai sangat membantu dalam proses pencarian data, analisis, pengolahan referensi, hingga pembuatan draf naskah ilmiah. Namun, AI bukan hadir menggantikan peran peneliti, melainkan sebagai alat bantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas luaran riset.
Narasumber utama, Dr. Hasan Subekti, M.Pd., Dosen Universitas Negeri Surabaya (UUNESA), memaparkan tantangan riset di era destruktif. Menurutnya, peneliti seringkali menghadapi hambatan seperti banjir informasi, kendala bahasa dalam penulisan internasional, hingga beban mengajar yang tinggi menyita waktu untuk menulis.
Ia menganalogikan peneliti hebat seperti peselancar yang harus berani menghadapi ombak tantangan teknologi, bukan sekadar berdiam di kolam yang tenang. Hasan juga memperkenalkan berbagai perangkat AI yang dapat membantu siklus riset, mulai dari ChatGPT, Claude, dan Gemini untuk mencari ide. Kemudian Elicit dan Scite.ai dalam mencari literatur serta mengecek kevalidan referensi.
Selain itu, ia mendemonstrasikan penggunaan Jenny AI untuk membantu menyusun kalimat akademik serta alat manajemen referensi seperti Mendeley dan Zotero agar sitasi sesuai dengan standar publikasi internasional.
Terkait isu plagiasi dan integritas akademik yang sering menjadi kekhawatiran, Hasan menjelaskan pentingnya "expert judgment" atau penilaian ahli dari peneliti itu sendiri. Meskipun tersedia alat seperti Turnitin atau iThenticate untuk mengecek kemiripan teks, peneliti tetap bertanggung jawab atas keaslian dan kebenaran konten yang dihasilkan. Penggunaan AI harus dilakukan secara transparan dan akuntabel sesuai dengan regulasi yang berlaku di masing-masing institusi. (Agus)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....