Ancaman Digital Dementia Menghantui Anak Zaman Now Tarakan

  • 26 Mar 2026 13:32 WIB
  •  Tarakan
Poin Utama
  • Dunia Maya

RRI.CO.ID, Tarakan - Fenomena anak-anak yang terpapar gawai sejak usia dini kini menjadi perhatian serius bagi masyarakat di Kota Tarakan. Dalam dialog "Sapa Kaltara", terungkap bahwa ketergantungan pada dunia maya telah mengubah pola sosialisasi anak-anak dari interaksi nyata menjadi sekadar validasi digital. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan melemahnya ketahanan mental generasi muda yang lebih mengutamakan hasil instan daripada menghargai sebuah proses kehidupan.

Narasumber dari Komunitas Keluarga Sakinah, dr. Lisia Kusumawati, menyoroti munculnya istilah "Digital Dementia" atau kepikunan digital yang kini mulai menyerang anak-anak. Menurutnya, penurunan fungsi otak ini terjadi akibat paparan layar gawai yang terlalu lama tanpa pengawasan yang memadai dari orang tua. "Anak-anak mengalami penurunan kemampuan kognitif karena mereka lebih terbiasa dengan konten visual instan daripada berpikir mendalam," jelas dr. Lisia.

Di sudut-sudut Kota Tarakan, fenomena orang tua yang memberikan gawai agar anak tetap tenang saat berada di tempat umum seperti kafe atau restoran sudah menjadi pemandangan lumrah. Padahal, kebiasaan ini justru memicu risiko speech delay atau keterlambatan bicara karena komunikasi yang terbangun hanya bersifat satu arah. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar mengenali emosi dan berekspresi secara alami karena perhatiannya tersedot sepenuhnya ke dalam layar.

Kepala Bidang PPA Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Tarakan, dr. Jumiati, menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama. Ia melihat adanya kecenderungan anak-anak masa kini memiliki "kepribadian ganda", di mana mereka pasif di dunia nyata namun sangat interaktif di dunia maya demi mengejar pengakuan. "Mereka mencari validasi lewat jumlah like dan viewers, yang jika tidak terpenuhi bisa memicu depresi mendalam," ungkap dr. Jumiati.

Kondisi ini diperparah dengan fenomena fatherless atau hilangnya sosok ayah dalam pengasuhan meskipun secara fisik ayah ada di rumah. Seringkali, orang tua yang lelah bekerja justru memilih asyik dengan gawainya sendiri daripada menjalin kedekatan emosional dengan anak. Padahal, kehadiran ayah sangat krusial dalam membangun kepercayaan diri anak agar tidak mudah terpengaruh tren negatif atau fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di media sosial.

Literasi digital bagi orang tua di Tarakan kini menjadi kebutuhan mendesak agar mereka tidak hanya sekadar memberikan fasilitas, tetapi juga mampu mengarahkan. Orang tua dituntut untuk belajar lebih dulu mengenai keamanan data dan etika digital sebelum bisa membimbing anak-anak mereka. Tanpa pemahaman yang kuat dari sisi orang tua, anak-anak akan terus menerima informasi dari internet secara mentah-mentah tanpa filter yang benar.

Sebagai penutup, para ahli menyarankan agar orang tua berani melakukan pembatasan waktu layar (screen time) dan menunda pemberian gawai selama mungkin. Mengembalikan fungsi meja makan sebagai ruang diskusi dan bonding keluarga dianggap jauh lebih berharga daripada membiarkan algoritma media sosial mengendalikan hidup anak. Kemenangan sejati bagi anak zaman sekarang adalah ketika mereka mampu berdaulat atas teknologi, bukan justru menjadi budak di dalamnya. (ADR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....