Jejak Sejarah Selimut Dari Kulit Hewan Hingga Modern

  • 28 Des 2025 03:33 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan : Selimut merupakan salah satu benda rumah tangga yang kini tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun, jauh sebelum selimut hadir dalam bentuk lembut dan hangat seperti sekarang, manusia purba telah lebih dulu mengenal kebutuhan akan pelindung tubuh dari dinginnya cuaca.

Cikal bakal selimut bermula pada masa prasejarah ketika manusia menggunakan kulit hewan buruan sebagai penutup tubuh saat tidur. Kulit hewan tersebut berfungsi menahan suhu dingin, terutama pada malam hari dan di wilayah dengan iklim ekstrem. Seiring waktu, manusia mulai mengolah serat alami seperti wol dan tumbuhan untuk dijadikan kain sederhana yang lebih ringan dan nyaman.

Memasuki peradaban Mesir Kuno dan Romawi, selimut mulai mengalami perkembangan. Masyarakat kelas atas menggunakan kain tenun dari wol atau linen sebagai alas dan penutup tidur. Selain berfungsi menjaga kehangatan, selimut juga menjadi simbol status sosial, ditandai dengan motif dan kualitas bahan yang digunakan.

Pada Abad Pertengahan, selimut semakin dikenal luas di Eropa. Teknik menenun berkembang pesat, memungkinkan produksi kain yang lebih tebal dan hangat. Selimut pun menjadi perlengkapan penting di rumah-rumah, terutama saat musim dingin. Inovasi terus berlanjut hingga Revolusi Industri, ketika mesin tenun memungkinkan selimut diproduksi secara massal dengan harga yang lebih terjangkau.

Kini, selimut hadir dalam beragam jenis dan bahan, mulai dari katun, wol, hingga serat sintetis dengan teknologi pengatur suhu. Meski bentuk dan bahannya terus berkembang, fungsi utama selimut tetap sama sejak ribuan tahun lalu, yakni memberikan kehangatan, kenyamanan, dan rasa aman bagi penggunanya.

Dari kulit hewan hingga kain modern berteknologi tinggi, perjalanan selimut mencerminkan kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan dan kemajuan zaman. RV

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....