Ubah Limbah Hingga Resmikan Pojok Literasi Desa Kelincauan

  • 12 Jul 2025 20:59 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Bulungan: Semangat kolaborasi antara kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 72 Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan AYS Indonesia melahirkan sebuah inisiatif inovatif dalam rangka mendorong pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan desa.

Melalui program bertajuk "Smart Village: Inovasi Limbah Minyak Jelantah dan Peresmian Pojok Literasi Desa Kelincauan, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kaltara", kedua pihak berhasil mengintegrasikan pendekatan edukatif, lingkungan, dan kewirausahaan sosial dalam satu rangkaian kegiatan berdampak.

Program ini meliputi dua kegiatan utama, yaitu peresmian Pojok Literasi sebagai pusat pembelajaran mandiri dan informal masyarakat, serta pelatihan pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk bernilai ekonomis, seperti sabun dari ekstrak daun jeruk, lilin aromaterapi, dan biodiesel B50 untuk fogging portable.

Dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan, Sekretaris Desa Kelincauan, Yus Hendra, menyampaikan bahwa inisiatif ini mencerminkan bentuk konkret sinergi antara akademisi, komunitas, dan pemerintah desa dalam menciptakan solusi atas persoalan nyata masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih dan bangga atas kontribusi KKN 72 UBT dan AYS Indonesia. Pojok Literasi ini menjadi simbol semangat baru untuk pendidikan anak-anak di desa. Sementara pelatihan minyak jelantah memberikan keterampilan langsung yang bisa dikembangkan warga, bahkan akan kami dorong menjadi produk unggulan desa. Kami rencanakan untuk membawa produk-produk ini mewakili Kelincauan dalam ajang Irau, sebagai bentuk inovasi desa yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pelatihan yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi disertai praktik langsung, mulai dari penyaringan minyak jelantah hingga proses produksi dan pengemasan. Masyarakat dibekali keterampilan untuk menghasilkan:

Minyak Jelantah Menjadi Sabun Ekstrak Jeruk, aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan ramah lingkungan;

Lilin aromaterapi Kayu Manis, dengan bahan alami yang dapat menjadi produk kerajinan dan cinderamata lokal;

Biodiesel B50, sebagai energi alternatif untuk fogging portable dalam mencegah wabah demam berdarah di desa.

Ketua KKN 72, Anjasmara, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk pengabdian yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Kami ingin meninggalkan sesuatu yang terus hidup setelah kami kembali. Produk ini tidak hanya berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi warga, tapi juga memperkenalkan Kelincauan sebagai desa yang sadar lingkungan dan kreatif. Dengan adanya rencana untuk membawa produk ini ke ajang Irau, ini menjadi bukti bahwa desa punya potensi besar untuk bersaing di panggung provinsi,” ucapnya.

Pelatihan ini merupakan bagian dari misi AYS Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran sosial dan lingkungan di akar rumput melalui aksi nyata. Menurut Founder AYS Indonesia, M. Abrar Putra Siregar, kegiatan ini menegaskan pentingnya literasi dalam makna luas tidak hanya membaca buku, tetapi membaca potensi dan peluang di sekitar.

“AYS hadir untuk mendorong kolaborasi strategis antara generasi muda dan masyarakat. Kami senang melihat bagaimana masyarakat Desa Kelincauan antusias mengelola limbah menjadi berkah. Dan ketika produk-produk ini nanti ditampilkan di Irau, itu adalah pencapaian kolektif kita semua. Seperti yang selalu kami tekankan: bukan seberapa besar hasilnya, tapi seberapa bermanfaat bagi sesama,” tegasnya.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, Desa Kelincauan kini bersiap untuk menampilkan wajah barunya di ajang Irau festival kebudayaan dan ekonomi kreatif terbesar di Kalimantan Utara. Produk hasil pelatihan ini akan menjadi produk unggulan desa, mewakili semangat gotong royong, kreativitas, dan keberlanjutan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak harus dimulai dari kota besar. Justru dari desa, ide-ide sederhana yang dieksekusi dengan baik dapat menjadi solusi cerdas yang berdampak luas. Kolaborasi seperti ini diharapkan menjadi model replikasi di desa-desa lain yang ingin bergerak menuju kemandirian berbasis potensi lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....