Mengenal Tilapia, "Chicken of the Sea" yang Menjadi Primadona Pasar Internasional
- 02 Jun 2026 23:05 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Ikan nila atau yang lebih dikenal secara internasional sebagai tilapia kini tengah menjadi primadona di pasar global. Dijuluki sebagai "Chicken of the Sea", ikan ini tidak hanya populer karena harganya yang terjangkau, tetapi juga karena kualitas dagingnya yang mampu bersaing di kancah internasional, bahkan hingga masuk ke menu salah satu restoran fish and chips tertua di London, Inggris.
Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Erwin Dwiyana, menjelaskan bahwa julukan tersebut muncul karena karakteristik tilapia yang mirip dengan ayam: mudah dipelihara, memiliki daging putih yang bersih, serta sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai jenis masakan. Dari sisi nutrisi, tilapia mengandung 20 hingga 29 gram protein per 100 gram sajian, serta kaya akan Omega-3, 6, 9, dan berbagai mineral penting lainnya.
Potensi ekonomi tilapia tidak hanya terbatas pada dagingnya saja. Melalui konsep zero waste dan ekonomi sirkular, produk sampingan ikan ini memiliki nilai jual tinggi. Sisik ikan tilapia dapat diolah menjadi kolagen tipe satu untuk kecantikan, kulitnya digunakan sebagai perban biologis untuk merawat luka bakar di dunia medis, sementara tulang dan kepalanya dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Di pasar internasional, permintaan terhadap tilapia terus menunjukkan tren positif dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 3 hingga 5 persen per tahun. Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan pangsa pasar global mencapai 30 persen. Keunggulan tilapia Indonesia terletak pada standar kualitasnya yang ketat, dimana hingga saat ini tercatat nol kasus penolakan (zero rejection) terkait penggunaan antibiotik atau zat terlarang oleh negara pengimpor.
Director of Regal Springs Indonesia, Triarma Saputra, mengungkapkan bahwa keberhasilan tilapia menembus pasar Eropa, termasuk jaringan restoran Green King Pub di Inggris, didukung oleh kepemilikan 37 sertifikasi internasional, termasuk ASC (Aquaculture Stewardship Council). Tilapia kini mulai menggantikan posisi ikan kod (cod) dan trout di restoran-restoran dunia karena tekstur dagingnya yang padat (firm), rasa yang netral, dan ketersediaan pasokan yang lebih berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia pun terus mendorong peningkatan konsumsi tilapia di dalam negeri, yang saat ini menempati posisi ketiga sebagai ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Selain mendukung kesehatan melalui asupan protein berkualitas, pengembangan budidaya tilapia yang berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung target Generasi Emas 2045 melalui program-program asupan gizi yang terukur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....