Komite Pengarah Nasional Program INOVASI Tinjau Dampak TET di Bulungan

  • 29 Sep 2026 12:05 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tanjung Selor – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan menegaskan penguatan kualitas guru tidak boleh terhambat oleh jarak dan kondisi geografis. Hal itu dibuktikan melalui penerapan Teacher Experimental Training (TET), sistem peningkatan kompetensi guru berbasis Kelompok Kerja Guru (KKG) yang kini diterapkan di 26 gugus dan dibiayai melalui APBD.

“Inilah wujud layanan pendidikan yang adil dan merata. Guru di Peso harus mendapat kesempatan belajar yang sama dengan guru di Tanjung Selor,” tegas Bupati Bulungan, Syarwani, saat ramah tamah bersama Komite Pengarah Nasional Program INOVASI, Senin (28/9/2026).

Kunjungan perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kedutaan Besar Australia, serta tim Program INOVASI ke Bulungan pada 28–29 September, dilakukan untuk melihat langsung penerapan dan dampak TET terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

“TET sudah berkembang dari dua menjadi 26 gugus dan kini sepenuhnya dibiayai APBD. Artinya, program ini sudah menjadi bagian dari kebijakan daerah,” ujar Syarwani.

Menurutnya, keberlanjutan TET menunjukkan program tersebut mampu bertahan menghadapi pergantian kepemimpinan, pandemi, hingga efisiensi anggaran. “Keberhasilan kemitraan adalah ketika program bisa dilanjutkan sendiri. TET kini menjadi milik dan tanggung jawab Bulungan,” tegasnya.

Syarwani mengatakan TET juga adaptif terhadap kebutuhan pendidikan, mulai dari peningkatan literasi dasar hingga penguatan pendidikan inklusif dan penanganan dampak learning loss selama pandemi. “Satu sistem harus bisa menjawab berbagai kebutuhan. Sekarang TET juga kita gunakan untuk memperkuat pendidikan inklusif,” katanya.

Ia mengungkapkan, saat kebakaran hutan terjadi beberapa waktu lalu, sistem TET turut membantu pemerintah daerah mempercepat penerapan pembelajaran dari rumah. “Ketika karhutla terjadi, sistem yang sama membantu kita bergerak cepat menerapkan belajar dari rumah,” ujarnya.

Dengan pembelajaran yang didekatkan ke lokasi tugas guru, TET dinilai relevan diterapkan di daerah dengan tantangan geografis dan keterbatasan fiskal. “Bulungan sangat luas dan sebagian wilayah hanya bisa dijangkau melalui sungai. TET mendekatkan pelatihan kepada guru tanpa menciptakan kesenjangan,” jelas Syarwani.

Ia berharap TET dapat dikaji sebagai model pengembangan kompetensi guru berbasis gugus yang efisien untuk daerah dengan karakteristik geografis serupa, termasuk wilayah 3T. “Kami siap menjadi lokasi belajar bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa,” katanya.

Pemkab Bulungan juga mendorong perluasan pendekatan tersebut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, penguatan pendidikan inklusif, serta konektivitas antargugus melalui teknologi. “Ke depan, kapasitas guru harus terus diperkuat dan gugus terpencil harus semakin terhubung,” tegasnya.

Keberhasilan TET merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah bersama Program INOVASI, BPMP Kaltara, KGTK Kaltara, Universitas Borneo Tarakan, perangkat daerah, Kementerian Agama, pengawas, kepala sekolah, guru, komunitas belajar, perguruan tinggi, dan masyarakat.

“Besok tim akan melihat langsung sekolah dan berdiskusi dengan guru untuk melihat dampak TET. Kami ingin sistem ini bisa menjadi pembelajaran bersama,” ungkapnya.

Joint visit tersebut melibatkan Komite Pengarah Nasional Program INOVASI, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Kedutaan Besar Australia, jajaran UPT Kemendikdasmen, serta perangkat daerah Pemkab Bulungan. (rln/*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....