Kemnaker: "Attitude" dan Berpikir Kritis Jadi Kunci Pekerja Tak Tergantikan AI
- 27 Agt 2026 11:50 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para pencari kerja mengenai masa depan profesi mereka. Menanggapi hal tersebut, Direktorat Bina Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyelenggarakan webinar penyuluhan jabatan bertajuk "Etika AI dan Critical Thinking: Menjadi Pekerja yang Unik dan Tidak Tergantikan oleh Mesin" guna mempersiapkan para pencari kerja agar lebih siap bersaing di pasar kerja nasional.
Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Kemnaker RI, Isnarti Hasan, mengungkapkan bahwa pasar kerja saat ini masih dihadapkan pada ketidakseimbangan (mismatch) kompetensi, tingginya angka pengangguran, serta disrupsi teknologi yang bergerak secepat kilat. Kendati demikian, Isnarti menegaskan bahwa ketidakpastian ini bukanlah penghalang, melainkan panggung untuk menguji kesiapan diri.
"Dunia kerja tidak kejam, ia hanya memiliki aturan main yang berbeda," ujarnya memotivasi para peserta yang sedang berjuang mencari pekerjaan.
Dalam kesempatan tersebut, Isnarti membagikan kiat penting mengenai pembuatan Curriculum Vitae (CV). Menurutnya, pasar kerja saat ini tidak lagi sekadar mencari siapa yang pintar di atas kertas atau memiliki IPK tinggi.
"CV adalah brosur, bukan sejarah hidup. Jangan hanya menulis apa yang sudah dilakukan, tetapi tulis apa yang dihasilkan," tegas Isnarti.
Ia juga menambahkan bahwa kecerdasan emosional, komunikasi, dan attitude (sikap) merupakan aspek penentu utama seseorang diterima bekerja, sementara keahlian teknis hanya berfungsi untuk mengantarkan kandidat ke tahap wawancara.
Sementara itu, psikolog industri dan organisasi, Annisaa Miranty Nurendra, memaparkan bahwa meski banyak pekerjaan administratif rutin mulai diotomatisasi oleh AI, teknologi ini tidak akan menggantikan eksistensi manusia sepenuhnya.
AI diakui sangat kuat dalam mengolah data dan menjalankan tugas repetitif, namun sistem tersebut tidak memiliki kesadaran, empati, nilai kebijaksanaan, serta tanggung jawab moral. "AI adalah alat yang dirancang untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan eksistensi manusia," jelas lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut.
Annisaa menekankan bahwa setiap pekerja wajib memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) agar tidak bergantung secara buta pada teknologi. Ketergantungan berlebih dapat menurunkan kemampuan analisis mandiri, padahal sistem AI sendiri masih kerap melakukan kesalahan, memberikan informasi tidak akurat, hingga menyajikan referensi palsu atau "bodong".
Melalui berpikir kritis, pekerja dapat mengidentifikasi masalah, mengevaluasi keabsahan data secara objektif, serta mengambil keputusan yang rasional sesuai konteks nyata di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....