Kemdiktisaintek Luncurkan Program Percepatan Doktor di Daerah Afirmasi

  • 17 Jun 2026 13:51 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi terus berupaya memperkuat kualitas tenaga pendidik di Indonesia, khususnya di daerah afirmasi dan wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Salah satu langkah strategis yang diambil adalah meluncurkan Program Percepatan Doktor Daerah Afirmasi yang berfokus pada wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.

Direktur Sumber Daya Ditjen Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Sri Suning Kusumawardani, mengungkapkan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan kualitas sumber daya manusia dan akses pendidikan doktor yang cukup signifikan.

Berdasarkan data tahun 2025, persentase dosen bergelar doktor secara nasional mencapai 25%, namun di wilayah NTT angkanya baru menyentuh 15% dan di Papua sebesar 21%.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah menerapkan pendekatan "jemput bola" melalui program pradoktoral selama empat bulan. Program ini bertujuan membantu para dosen di daerah afirmasi dalam menyusun proposal penelitian dan persiapan akademik lainnya yang seringkali menjadi hambatan utama dalam menempuh studi S3.

Selama masa persiapan ini, para peserta akan dibimbing langsung untuk mematangkan tema riset agar siap diuji dan dipresentasikan di program doktoral nantinya.

Strategi percepatan ini juga mencakup proses matchmaking atau penjodohan antara calon mahasiswa dengan calon promotor serta kopromotor dari berbagai perguruan tinggi penyelenggara.

Sri Suning menjelaskan bahwa pihaknya mengidentifikasi bidang ilmu yang dibutuhkan calon mahasiswa dan mengoneksikannya dengan ketersediaan pakar di perguruan tinggi, sehingga fokus penelitian menjadi lebih tajam sejak awal.

Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan sistem hibrida (hybrid) yang mengombinasikan pertemuan daring dan luring. Skema ini sengaja dirancang agar para dosen tetap dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab mengajarnya di daerah asal sembari mengikuti penguatan akademik.

Selain program gelar, terdapat pula dukungan non-gelar seperti peningkatan kemampuan bahasa Inggris dan program pencarian bakat (talent scouting).

Kehadiran doktor-doktor baru di daerah afirmasi diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan daerah melalui hasil riset yang berkualitas. Dengan dosen yang memiliki kualifikasi doktor, potensi daerah dapat digali lebih dalam melalui penelitian, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi di wilayah tersebut. Hal ini sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045 untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan inklusif. (Agus Maulana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....