Cara Baru Pemerintah Bangun Ekosistem Ekonomi di Wilayah Transmigrasi

  • 02 Jun 2026 13:39 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Kementerian Transmigrasi tengah mendorong transformasi besar dalam program perpindahan penduduk melalui inisiasi Transmigrasi Patriot. Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman Suryanegara, menegaskan bahwa paradigma transmigrasi kini bukan lagi sekadar memindahkan orang, melainkan membangun ekosistem ekonomi baru di kawasan tujuan dengan menghadirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan tangguh. Program ini bertujuan untuk memastikan negara hadir di tengah masyarakat yang selama ini merasa terpinggirkan.

Dalam strategi terbarunya, Iftitah menggunakan analogi "ada gula ada semut" untuk menjelaskan arah kebijakan pemerintah. Alih-alih hanya memindahkan penduduk, fokus utama saat ini adalah mencetak potensi ekonomi atau "gula" di kawasan transmigrasi. Dengan membangun infrastruktur dasar, memastikan legalitas lahan yang clean and clear, serta memetakan potensi ekonomi daerah, diharapkan transmigran akan datang dengan sendirinya secara mandiri karena melihat peluang kesejahteraan yang nyata.

Program ini didukung oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang melibatkan para akademisi dan sarjana untuk melakukan riset serta pendampingan langsung di lapangan selama 4 hingga 6 bulan. Salah satu sosok yang menjadi bukti nyata keberhasilan transmigrasi adalah Grasianto, seorang dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang lahir dari keluarga transmigran di Bengkulu. Meskipun tumbuh di daerah pelosok, Grasianto berhasil menempuh pendidikan hingga ke Jepang dan kini kembali ke dunia transmigrasi sebagai bagian dari Patriot untuk memberikan kontribusi balik kepada negara.

Kehadiran para Patriot ini telah memberikan dampak konkret bagi masyarakat lokal, seperti munculnya istilah "petani berdasi" yang memanfaatkan teknologi dan jaringan pasar. Menteri Iftitah mencontohkan keberhasilan di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, di mana pendampingan teknologi dan akses pasar ekspor ke Tiongkok berhasil meningkatkan harga durian lokal hingga 5-6 kali lipat. Selain pertanian, pemetaan potensi ekonomi kini juga mencakup sektor migas, batu bara, perkebunan sawit, hingga optimalisasi hasil laut bagi masyarakat maritim.

Melalui program ini, kawasan transmigrasi diharapkan tidak lagi dianggap sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai garis depan pembangunan Indonesia. Dengan semangat patriotisme dan kacamata ilmu, pemerintah mengajak anak muda untuk tidak hanya menjadi cerdas secara teori, tetapi juga berani turun ke lapangan untuk menjadi pemecah masalah bagi bangsa.

"Negara membutuhkan Anda untuk hadir di kawasan, menggerakkan pengetahuan, dan membangun Indonesia dari harapan menjadi kemajuan," pungkas Menteri Transmigrasi pada kesempatan yang sama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....