Abut Musoy Hidupkan Kembali Skena Musik Underground Tarakan

  • 30 Mar 2026 08:29 WIB
  •  Tarakan
Poin Utama
  • Band Indie

KBRN, Tarakan – Skena musik independen di Kota Tarakan kembali menunjukkan taringnya melalui kehadiran unit grindcore lokal, Abut Musoy. Dalam sesi Live Music di Pro 2 RRI Tarakan, grup yang terbentuk sejak tahun 2020 ini membuktikan bahwa musik keras masih memiliki tempat istimewa di hati para penikmat musik Kalimantan Utara meskipun sempat meredup.

Nama "Abut Musoy" sendiri diambil dari bahasa Tidung yang secara harfiah berarti "tidak peduli" atau "bodo amat". Filosofi ini mereka terapkan dalam bermusik, di mana mereka memilih jalur underground yang idealis di tengah gempuran tren musik pop indie yang sedang menjamur. Kehadiran mereka seolah menjadi oase bagi para "suhu" dan pencinta musik distorsi di Bumi Paguntaka.

Grup yang digawangi oleh Aksel pada vokal, Akbar pada gitar, dan Bebe pada drum ini mengusung genre grindcore dengan karakteristik lagu yang berdurasi singkat namun padat energi. Menurut mereka, durasi satu hingga dua menit sudah cukup untuk menyampaikan pesan kritik sosial tanpa harus membuat pemainnya merasa kelelahan atau "ngos-ngosan" di atas panggung.

Dalam penampilannya, Abut Musoy membawakan beberapa lagu andalan seperti "Merdeka", "Insurgent", dan "PTSD". Lirik-lirik yang mereka tumpahkan banyak berbicara tentang isu kemanusiaan, dampak buruk peperangan, hingga trauma psikologis. Mereka menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan ketidakadilan dan realitas pahit yang terjadi di berbagai belahan dunia maupun lingkungan sekitar.

Pada 10 Agustus 2024, mereka telah merilis album perdana bertajuk Anatomy of Terror. Album ini menjadi bukti keseriusan mereka dalam berkarya, di mana proses kreatifnya melibatkan banyak eksperimen suara dan aransemen yang digarap secara kolektif, bahkan beberapa bagian diciptakan secara spontan saat berada di dalam studio rekaman.

Tak berhenti di situ, Abut Musoy kini tengah mempersiapkan proyek Extended Play (EP) terbaru yang direncanakan rilis dalam waktu dekat. Pada karya mendatang, mereka berencana mengangkat isu lokal yang lebih spesifik, seperti isu lingkungan dan perebutan lahan di tanah Kalimantan, sebagai bentuk kritik terhadap eksploitasi yang merugikan masyarakat adat dan lokal.

Melalui konsistensi ini, Abut Musoy berharap skena musik underground di Tarakan bisa terus berkembang dan tidak hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja. Mereka ingin menginspirasi generasi muda untuk berani tampil beda dan menyuarakan aspirasi mereka melalui jalur musik apa pun, tanpa harus takut melawan arus tren yang ada. (ADR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....