Hariyandi, UMKM Sukses yang Bawa Frozen Food Kaltara Tembus Pasar Mancanegara
- 24 Agt 2026 20:11 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN – Nama DBaloy tak asing lagi di telinga pelaku Usaha Mikro Kecil Menangah (UMKM) Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya Tarakan.
UMKM asal Bumi Paguntaka ini telah menjelma menjadi industri manufaktur yang sukses dengan berbagai macam makanan olahannya, termasuk frozen food, hingga menembus pasar domestik dan mancanegara.
Capaian itu tidak lepas dari tangan dingin sang owner, Hariyandi. Ketekunan, kegigihan dan inovasinya dalam merintis dunia usaha membawanya menjadi salah satu pelaku UMKM sukses di Kaltara saat ini.
Sempat Jatuh Bangun Memulai Usaha
Langkah Hariyandi sempat berada di titik nadir pada 2014 lalu. Bisnis laundry yang dirintisnya tak lagi sanggup menutup beban finansial yang mendadak membengkak.
Situasi kian terdesak saat perizinan aset jaminan atas namanya menanggung pinjaman kerabat di bank yang menunggak. Teror penagih utang (debt collector) menjadi makanan sehari-hari bagi keluarga mudanya yang saat itu baru saja dikaruniai anak pertama.
“Sebetulnya awalnya kita bisnis itu dilatarbelakangi faktor kepepet sih, karena sebelumnya usaha saya laundry. Damai saja pada saat itu sampai pada satu masa ada salah satu keluarga pinjam uang di bank, anggunannya milik dia, tapi perizinannya atas namaku. Bulan pertama dia masih cicil, bulan kedua masih cuma telat, bulan ketiga tidak cicil sama sekali. Pada akhirnya orang bank datang ke saya," kenang Hariyandi saat bercerita awal mulai perjalanan usahanya kepada awak media di teras rumahnya, Senin (24/8/2026).
"Karena ada beban itu, saya sebenarnya dengan pihak debt collector sudah menyerah, sudahlah pak sita saja anggunannya, saya enggak sanggup bayar. Tapi memang mekanisme bank tidak semudah itu, dikejar-kejar debt collector malunya luar biasa sekali. Akhirnya kami mengalah, kami putuskan mencicil, tenornya diperpanjang, cicilannya diperkecil," sambung Hariyandi.
Namun, dari tekanan mental dan keterdesakan ekonomi itulah daya juang pengusaha muda Kaltara ini justru menyala. Menyadari bahwa bisnis jasa laundry memiliki batas pertumbuhan kapasitas, Hariyandi memutar otak.
Ia melihat potensi besar komoditas lokal yang melimpah di tanah kelahirannya, ikan bandeng. Di balik garasi laundry milik orang tuanya di Karang Balik, ia memulai langkah pertama memroduksi frozen food olahan bandeng dengan modal yang sangat terbatas, hanya mengandalkan tenaga dan waktu.
Perjalanan Perizinan dan Transformasi Berbasis Riset, Peran BI Mengubah Pola Bisnis
Perjalanan DBalloy —nama yang diambil dari bahasa Tidung De Baloi yang berarti "Di Rumah"—tak meluncur mulus begitu saja. Usaha yang dirintis dari skala rumah tangga ini merangkak perlahan melengkapi legalitas usahanya.
Berbekal Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) dari kecamatan sejak 2014, Hariyandi terus berbenah hingga berhasil mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) berbasis Sistem OSS pada 2018.
Titik balik krusial dalam peta perjalanan bisnisnya terjadi saat Hariyandi lolos kurasi menjadi UMKM Binaan Bank Indonesia (BI) dalam program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) pada 2018.
Melalui karantina bootcamp ketat selama tiga hari tiga malam hingga pendampingan intensif selama dua tahun, pola pikir bisnisnya bergeser total secara profesional.
"Dulu buat produk hanya berdasarkan keinginan, pokoknya asal jualan. Melalui pembinaan Bank Indonesia, kami diajari cara memanaj keuangan dan meriset produk secara terstruktur. Semuanya harus berbasis data dan kebutuhan pasar," kenang Hariyandi.
Strategi Melebar, Kunci Bertahan di Pasar Terbatas
Memahami karakter geografis Kalimantan Utara yang memiliki jumlah populasi terbatas dibanding Pulau Jawa, Hariyandi mengeksekusi strategi bisnis unik yang ia sebut Strategi Melebar.
Jika UMKM di Pulau Jawa bisa tumbuh pesat hanya dengan mengandalkan satu jenis produk karena pasarnya yang sangat besar, DBalloy memilih meluncurkan banyak varian produk untuk menjaga retensi dan tingkat konsistensi belanja pelanggan lokal agar tidak bosan.
Pada Desember 2021, ia melegalkan korporasinya menjadi PT DBaloy Corp Indonesia. Dari yang awalnya hanya memroduksi pempek bandeng dan teh bawang dayak, portofolionya melonjak pesat dari 18 varian produk pada 2021 menjadi 47 varian produk saat ini.
Lokasi industrinya juga sudah melebar menjadi dua lokasi. Untuk industri frozen food berada di daerah Selumit. Sementara nonfrozen food berlokasi di Sebengkok Waru yang bersebelahan dengan kediamannya.
"Ini bagian dari strategi bisnis. Kita melebar dengan memperbanyak varian produk untuk menjaga kebosanan pelanggan, makanya produk yang kita tawarkan banyak," terang alumni Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda ini.
Produknya mulai dari Bandeng Tanpa Duri (dengan 9 varian bumbu rahasia), Bandeng Presto, Bandeng Crispy, hingga komoditas nonikan seperti Garam Krayan, Beras Krayan, dan Kopi Malinau.
Untuk mengelola skala usaha yang kian membesar, Hariyandi membagi operasional PT DBaloy Corp Indonesia ke dalam dua divisi strategis.
Divisi Produksi DBaloy Food Industry yang fokus pada proses manufaktur massal, kontrol kualitas, serta Riset dan Pengembangan Produk baru (R&D) minimal 2–3 produk baru per tahun, serta Divisi Pemasaran DBaloy Shop yang fokus pada penetrasi pasar, manajemen jalur distribusi, ekspansi kemitraan, serta strategi penjualan ritel maupun wholesale.
Akselerasi Inovasi, Pemanfaatan AI, dan Digitalisasi Sistem
Keterbatasan modal di awal merintis memaksa DBaloy beradaptasi dengan teknologi pemasaran digital sejak dini.
Pada 2014, saat Facebook masih versi beta dan Instagram belum sepopuler sekarang, Hariyandi memanfaatkan Blackberry Messenger (BBM) dan forum Kaskus dengan sistem Open Pre-Order (PO). Sistem bayar di awal ini dimanfaatkan untuk memutar modal produksi tanpa perlu meminjam uang.
"Percaya tidak percaya sebetulnya membantu kami juga. Ketika awal mulai bisnis frozen food ini kami minim modal di 2014 itu, salah satu cara yang masuk akal hanya memasarkan produk kami melalui online. Pada saat itu Instagram belum lahir, Facebook masih versi Beta, yang kami gunakan BlackBerry massanger. Karena kita tidak punya uang untuk sewa tempat, Kaskus juga kita pakai pada saat itu," beber Hariyandi.
Kini, digitalisasi di tubuh DBaloy telah melompat jauh melampaui sekadar jualan online biasa. Hariyandi menuturkan pemasaran dan marketplace transaksi penjualan digital menyumbang hingga 80% total omset perusahaan, didukung integrasi jaringan toko di platform Shopee, Tokopedia, dan BliBli, serta jaringan distributor di Balikpapan hingga Pulau Jawa.
Untuk mendukung pengembangan usahanya, DBaloy tak lagi menggunakan AI sekadar untuk membuat teks promosi. Hariyandi memanfaatkan teknologi AI Cloud (Claude AI) untuk menganalisis keterlibatan media sosial, menentukan profil target market, hingga menyusun proyeksi perencanaan bisnis jangka panjang (5–10 tahun).
"Sekarang mulai muncul AI itu. Kita tidak lagi sekedar menggunakan untuk hal-hal yang sifatnya fundamental seperti bikin brosur, tapi juga sekaligus kita manfaatkan AI itu untuk membantu kita untuk menentukan siapa target market kita, bagaimana strategi pengembangan media sosial kita dan sebagainya," ungkap Hariyandi.
Selain itu, DBaloy juga telah menetapkan Standardisasi Transaksi Digital dengan mengadopsi sistem pembayaran QRIS untuk menjaga transparansi arus kas (cash flow) dan memisahkan secara ketat modal operasional usaha dengan dana kebutuhan rumah tangga.
Kehadiran DBaloy Menggerakkan Ekosistem Ekonomi Daerah dan Target Pasar Global
DBalloy bukan sekadar kisah sukses individu, melainkan mesin penggerak ekonomi lokal yang memberi dampak riil bagi masyarakat Tarakan dan sekitarnya.
Dengan serapan bahan baku ikan bandeng mencapai 4 hingga 5 ton per bulan, DBaloy menjaga ekosistem tambak lokal tetap bergairah.
"Kita menyerap bahan baku saja banyak, per bulannya itu kalau semua ready produk kits bisa 4 sampai 5 ton, perputaran uang sudah berapa di situ," bener Hariyandi.
DBalloy mengikat kontrak Kerja Sama (MoU) dengan petambak lokal untuk menjamin harga beli bahan baku tidak pernah di bawah harga pasar. Saat harga bandeng sempat anjlok di tingkat petambak hingga Rp6.000/kg, DBalloy konsisten membeli dari petambak mitra di harga Rp11.000/kg demi menjaga kestabilan rantai pasok dan kesejahteraan pembudidaya.
DBaloy juga mampu menyerap tenaga kerja lokal. Di mana saat ini mempekerjakan 6 karyawan tetap untuk produk nonikan dan memberdayakan hingga 30 orang tenaga kerja harian (freelance) saat pasokan ikan tambak melimpah.
"Karyawan saya yang tetap ada 6. Sementara yang freelance ada banyak, kalau dikumpul semua bisa 30an orang," ungkap Hariyandi.
DBaloy menjual 250 hingga 300 ekor (40–60 kg) produk olahan bandeng ritel per hari untuk pasar domestik, belum termasuk pesanan skala Business-to-Business (B2B).
Keberhasilan menguasai pasar domestik Kaltara hingga luar pulau menjadi pijakan DBaloy untuk mengepakkan sayap ke tingkat internasional.
Memanfaatkan fasilitas perdagangan lintas batas dari Sebatik ke Tawau, produk olahan bandeng unggulan Kaltara ini telah menembus pasar Malaysia dan Singapura.
Ke depan, Hariyandi menargetkan perluasan ekspor ke tiga negara tujuan baru, termasuk pasar Taiwan.
"Target saya 5 negara. Saat ini baru Malaysia dan Singapura, masih ada tiga lagi yang kami kejar, salah satunya Taiwan," ungkap Hariyandi.
Filosofi logo DBaloy—yang memadukan huruf d dan b kecil sebagai simbol asal-usul usaha mikro kecil, dengan huruf D dan B besar di dalamnya—menjadi cerminan nyata perjalanan usahanya yang berawal dari usaha rumahan yang terdesak kepepet, namun memiliki mimpi, strategi, dan daya saing yang sangat besar untuk menguasai pasar dunia. (Rajab)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....