Menenun Karakter di Sekolah Rakyat Rintisan Tarakan
- 08 Jul 2026 17:54 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN - Senin pagi (6/7/2026) di halaman Sekolah Rakyat Rintisan Tarakan yang yang berada di kompleks Lembaga Latihan Kerja (LLK), tampak berbeda.
Belasan siswa dengan jemari mungilnya, sigap mengayunkan sapu lidi, membersihkan setiap sudut halaman.
Ada juga yang mengambil sampah yang berserakan di sekitar halaman. Kebetulan hari itu masih dalam suasana libur pasca berakhirnya tahun ajaran 2025/2026.
Bukan tanpa alasan, kesibukan ini adalah persiapan menyambut open house sembilan bulan berjalannya Sekolah Rakyat Rintisan Tarakan.
Sebuah momentum untuk menunjukkan kepada Wali Kota Tarakan, dr. Haji Khairul, M.Kes, bahwa asa itu benar-benar tumbuh di sini.
Namun, jika menelisik lebih dalam, denyut nadi sekolah berasrama ini justru terasa kian bertenaga saat lonceng tanda jam pelajaran usai berbunyi.
Jika pada masa pembelajaran, pukul tiga sore, ketika sekolah formal lain mulai sepi, di Sekolah Rakyat Rintisan Tarakan, petualangan yang sesungguhnya justru baru dimulai.
"Jadi mereka benar-benar belajarnya itu tidak kosong gitu Pak, ada yang didapatkan. Tidak hanya setelah dari sekolah nanti ke asrama, tidur, kembali, enggak. Pasti akan diisi per jam itu akan ada kegiatan. Di luar dari setelah saya selesai pembelajaran itu sekitar jam 3. Nanti setelah itu anak-anak yang misalnya mau diajarkan membaca, silahkan nih ke perpustakaan belajar dan membaca. Itu didampingi juga sama guru, nanti lain lagi di asrama, di asrama walinya lagi nih yang ajarkan membaca," ujar Wakil Kepala Sekolah Rakyat Rintisan Tarakan Bidang Kesiswaan, Susana Ines Ritan ditemui disela kesibukannya.
Mengejar ketertinggalan adalah misi utama. Dari 63 siswa yang terdiri dari jenjang SD dan SMP, banyak di antaranya yang berangkat dari latar belakang keluarga kurang mampu dengan kemampuan akademik awal yang minim.
Namun, ruang perpustakaan sore hari menjadi saksi bisu, bagaimana para guru dengan telaten meluangkan waktu di luar jam dinas, demi melihat anak didik mereka lancar mengeja kata demi kata.
Tidak melulu soal buku. Selepas mengasah otak, halaman sekolah kembali menjelma menjadi lapangan penuh tawa.
Kegiatan ekstrakurikuler mulai dari mengaji, bermain futsal, hingga bola voli, terjadwal ketat demi membentuk kedisiplinan dan emosional anak.
"Anak-anak di rumah tuh gak rajin sholat, tapi ketika di sini kan teratur tuh Pak. Jam sekian-sekian harus sudah mandi, bangun, sholat subuh, terus lakukan kegiatan, lakukan aktivitas... Yang di luar dari agama Islam juga ada kegiatannya, kegiatan ibadat. Kalau berasrama kan berarti dari bangun pagi sampai tidur lagi kembali, jadi semuanya dibentuk lah, dari kebiasaannya, segala macam. Sudah mulai baik, caranya berbicaranya sama gurunya juga udah mulai baik, sudah mulai sopan," ungkap Susana.
Sembilan bulan bukanlah waktu yang lama untuk mengubah sebuah kebiasaan. Ada peluh, ada air mata, dan tentu saja kerja keras yang tak putus dari para guru dan wali asrama.
Alih-alih mengeluh menghadapi kepribadian anak-anak yang awalnya jauh dari karakter pelajar, para pendidik di Sekolah Rakyat justru mengaku menyimpan rasa bangga yang luar biasa.
Jumat nanti (10/7/1026), lewat gelaran open house, potret perubahan karakter, kemandirian, dan senyum sopan anak-anak Sekolah Rakyat ini akan dipamerkan kepada dunia.
Menjadi bukti bahwa dengan asuhan yang tepat, mutiara yang sempat terpendam, kini siap berkilau dari utara Kalimantan. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....