Kisah Ana Sri Ekaningsih dan Misi Regenerasi Pendonor Muda

  • 24 Jun 2026 20:45 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN - Bagi sebagian orang, jarum suntik dan kantong darah mungkin menjadi hal yang dihindari. Namun bagi Ana Sri Ekaningsih, benda-benda tersebut adalah saksi bisu dari sebuah komitmen kemanusiaan yang telah terjaga selama lebih dari dua dekade.

Mei 2025 lalu, menjadi tonggak sejarah personal bagi Direktur Politeknik Bisnis Kaltara ini. Jarum donor kembali menusuk lengannya, menandai kali ke-124 dirinya mendermakan darah. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan bukti konsistensi merawat kehidupan orang lain.

"Niat awal saya dulu sederhana, cuma mikir, 'Wah, keren ya kalau perempuan bisa donor darah rutin.' Selain itu, saya memang ingin membantu," kenang Ana sembari tersenyum saat diwawancarai awak media, Rabu (24/6/2026).

Langkah pertamanya dimulai pada tahun 1999 silam. Gerakan kemanusiaan ini bukan tanpa pemantik. Ana tergerak saat melihat keluarga dari teman suaminya kesulitan setengah mati mencari donor darah. Dari sana, sebuah kesadaran esensial muncul di benaknya.

"Saya berpikir, begitu susahnya mencari orang yang mau donor. Padahal, darah tidak bisa dibeli di apotek atau toko mana pun. Darah hanya bisa ada melalui gerakan kerelaan seorang insan manusia," tuturnya filosofis.

Sejak saat itu, donor darah menjadi gaya hidupnya. Ritmenya mengikuti perkembangan dunia medis tanah air, dari yang awalnya hanya boleh tiga bulan sekali, kini ia rutin mendonorkan darah setiap dua bulan sekali.

Perjalanan panjang itu hanya sempat terjeda selama dua tahun, ketika Ana harus mengandung dan menyusui buah hatinya.

Bagi Ana, 124 kali donor adalah sertifikat kesehatan yang valid dari Tuhan. Logikanya sederhana, seseorang tidak akan bisa mendonorkan darah jika tubuhnya tidak fit.

Setiap kali hendak mendonor, tensi, berat badan, hingga kadar hemoglobin (HB) wajib berada di angka ideal yaitu minimal 12,5 dan maksimal 16 untuk perempuan, serta 17 untuk laki-laki.

"Setiap 120 hari, sel darah merah kita akan mati dan berganti baru. Dengan donor, metabolisme tubuh jadi bagus, komposisi darah di tubuh kita selalu fresh," jelas Ana berbagi tips kesehatan.

Tak hanya itu, Ana menyebut donor darah sebagai fasilitas deteksi dini kesehatan gratis. Sebelum disalurkan, setiap 350cc darah pendonor akan diuji di laboratorium PMI untuk memastikan bebas dari penyakit seperti hepatitis, malaria, hingga HIV. Jika ada indikasi, PMI akan langsung menginformasikannya kepada pendonor. "Jadi buat saya, angka 124 itu artinya saya sehat," imbuhnya bersyukur.

Kini, Ana tidak ingin berjalan sendiri. Sebagai seorang akademisi dan pimpinan kampus, ia melihat ada tanggung jawab besar untuk menularkan kebiasaan mulia ini kepada generasi muda.

Melalui program pengabdian masyarakat, Ana sengaja menjaring wajah-wajah baru yang belum pernah menyentuh dunia bakti sosial donor darah.

Baru-baru ini, ia memboyong lima mahasiswa, satu dosen, dan satu staf mengikuti kegiatan donor darah yang digagas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara. Pendampingan ketat pun ia lakukan langsung.

"Sengaja saya cari yang baru-baru supaya ada regenerasi. Kalau yang sudah biasa kan tidak perlu dikawal. Nah, yang baru ini ketakutannya macam-macam, ada yang sempat nervous

sampai harus diminta duduk dulu, tiduran, dan minum air putih banyak," tutur Ana.

Dari tujuh orang yang dibawanya, seluruhnya dinyatakan lolos secara medis. Namun, ada cerita menarik dari dua mahasiswa yang memiliki golongan darah AB. Pihak PMI memutuskan untuk tidak mengambil darah mereka saat itu juga.

"Golongan darah AB itu peminat atau penggunanya jarang. Kalau diambil sekarang, takutnya mubazir dan kedaluwarsa. Jadi biar darah itu tetap mengalir di badan mereka dulu. Nanti begitu ada pasien yang butuh, mereka siap dihubungi kapan saja," ungkap Ana.

Pengalaman pertama para mahasiswa ini menjadi batu loncatan bagi mimpi Ana yang lebih besar. Ia berencana merajut komitmen ini menjadi sesuatu yang institusional dan berkelanjutan.

"Harapan saya, dari mereka yang lolos ini, akan saya bentuk satu kelompok atau Komunitas Donor Darah Politeknik Bisnis Kaltara. Jadi nanti kami bisa rutin berderma darah ke PMI atau langsung ke rumah sakit. Kapan pun ada yang membutuhkan, kami siap," tegas Ana penuh optimisme.

Melalui komunitas yang akan dibentuknya nanti, Ana Sri Ekaningsih sedang menanam benih kemanusiaan di dalam diri anak-anak mudanya. Ia percaya, sekantong darah yang mengalir dari para mahasiswanya kelak, bukan hanya menyambung nyawa orang lain, melainkan juga menyambung estafet kepedulian yang tak boleh putus. (Rajab)

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....