Edy Artil Menanam Cahaya Ngaji di Kampung Narkoba
- 25 Feb 2026 13:06 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Langkah kaki Edy Artil tak pernah gentar menyusuri gang-gang sempit di Selumit Pantai, sebuah kawasan di Tarakan yang sempat lekat dengan stigma kelam peredaran narkoba. Di sana, ia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati: anak-anak balita hingga usia sekolah dasar dimanfaatkan oleh sindikat sebagai informan atau "mata-mata" polisi.
Kepolosan mereka dibeli dengan rupiah, membuat mereka tumbuh di lingkungan yang menganggap kriminalitas sebagai hal biasa. Kegelisahan inilah yang kemudian mendorong Edy untuk mengambil tindakan nyata demi menyelamatkan masa depan generasi muda di lingkungannya.
Bagi Edy, melawan narkoba tidak melulu harus dengan kekuatan fisik atau konfrontasi terbuka yang berisiko tinggi. Ia memilih jalan sunyi namun tajam, yakni melalui pendidikan agama dan mengaji.
"Kalau dengan cara lain tidak efektif," ujarnya mengenang awal mula perjuangannya. Ia percaya bahwa dengan menanamkan nilai-nilai Al-Qur'an sejak dini, anak-anak akan memiliki benteng moral yang kuat untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tanpa perlu ia menggurui mereka secara kasar tentang bahaya narkotika.
Perjalanan ini dimulai dari langkah kecil di teras rumahnya yang sederhana. Awalnya, hanya ada lima orang anak yang datang untuk belajar. Namun, ketulusan Edy yang mengajar tanpa memungut biaya sepeser pun membuat kabar ini tersiar cepat. Lambat laun, rumahnya tak lagi mampu menampung antusiasme santri yang membludak hingga mencapai 40 orang, memaksa kegiatan belajar merambah hingga ke area kamar pribadi dan pelataran rumah. Kini, perjuangan tersebut telah berpindah ke Masjid Alma'ruf dengan jumlah santri aktif mencapai 77 orang.
Dalam kesehariannya, Edy tidak sendirian karena sang istri setia mendampingi sebagai pilar pendukung utama. Mereka tidak hanya mengajarkan baca tulis Al-Qur'an, tetapi juga hafalan doa dan etika Islam yang mendasar. Menariknya, di antara para santri tersebut, Edy menyadari ada beberapa anak yang sebelumnya menjadi informan bagi para pengedar.
Namun, ia memilih untuk tidak menghakimi. Ia merangkul mereka dengan kelembutan, memberikan kasih sayang yang mungkin tidak mereka dapatkan di jalanan, hingga perlahan-lahan mereka meninggalkan dunia hitam tersebut.
Meski kini Selumit Pantai telah dicanangkan sebagai "Kampung Bersinar" (Bersih Narkoba), tantangan yang dihadapi Edy belum sepenuhnya usai. Masalah operasional dan kesejahteraan tenaga pengajar masih menjadi ganjalan, mengingat selama ini mereka bekerja secara sukarela tanpa insentif tetap dari pemerintah daerah.
Beruntung, dukungan datang dari pihak kepolisian dan donatur yang tergerak melihat kegigihan Edy. Bantuan berupa meja belajar hingga Al-Qur'an menjadi nafas tambahan bagi keberlangsungan taman pendidikan Al-Qur'an yang ia asuh.
Kisah Edy Artil adalah potret nyata bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari kepedulian seorang warga biasa. Ia tidak menunggu bantuan turun dari langit untuk mulai membenahi kampungnya. Baginya, setiap huruf hijaiyah yang dieja oleh anak-anak Selumit Pantai adalah peluru yang melumpuhkan pengaruh buruk narkoba.
Edy membuktikan bahwa pendekatan humanis dan spiritual mampu menyentuh sisi terdalam manusia, mengubah "mata-mata" sindikat menjadi penjaga moral bangsa di masa depan.
Kini, harapan Edy sederhana namun mendalam: ia ingin pemerintah dan aparat tidak kendor dalam menjaga wilayah yang sudah mulai bersih ini.
Ia juga bermimpi agar para orang tua di kampungnya tidak malu untuk ikut belajar mengaji, menciptakan lingkungan rumah tangga yang religius. Melalui pengajian, Edy Artil tidak hanya mengajarkan cara membaca kitab suci, tetapi ia sedang menenun kembali martabat sebuah kampung yang sempat terkoyak oleh dinginnya jeratan narkoba. (ADR)