Seni dan Teknik Membatik Warisan untuk Gen Z

  • 25 Agt 2025 14:55 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan: Berawal dari bakat seni menjalar menjadi hobi. Siapa sangka hobi seninya menghasilkan cuan. Sonny Lolong, pria kelahiran Sukabumi yang pernah merantau ke Bali, Lombok, Malaysia, hingga menetap ke Tarakan dan mengembangkan motif batik lokal di galeri seni miliknya D’ERTE TARAKAN.

Sonny Lolong (Foto: GenZpedia/Ade)

Sonny Lolong memang mempunyai bakat seni yang tidak disangka bisa menghasilkan cuan. Kalau mempunyai bakat seni mempelajarinya pasti cepat, tapi kalua belum ada bakat seni bisa jadi lebih lama.

Pria kelahiran 16 juni 1963 ini tertarik pada batik karena keterlibatan pemerintah. Ia terpilih menjadi salah peserta pelatihan tentang dasar membatik di Yogyakarta “Dulunya belum ada batik asli Tarakan, di tahun 2011 pemerintah memberi kesempatan kepada Masyarakat untuk mengikuti pelatihan batik. Dari 100 orang pendaftar, hanya 20 yang terpilih, salah satunya saya,” ungakapnya.

Berkat kesempatan pemerintah itulah yang kemudian menggiringnya untuk bertekad mempelajari lebih dalam tentang batik dan menjadi sumber penghasilan. Namun, masih ada tantangan yang harus dihadapi, mulai dari minimnya ekonomi untuk membeli alat dan bahan, hingga tempat untuk memulai usahanya. Campur tangan pemerintah membuat ia kembali bersemangat menggapai mimpinya menjadi seorang pengrajin batik. Seluruh peserta pelatihan mendapatkan bantuan alat dan bahan. Sonny langsung tancap gas mengembangkan motif batik lokal.

“Karena batik itu bukan diciptakan tapi diadakan. Lalu Kembali pada diri sendiri, kalua ada bakat seni pasti cepat dan tidak ada kesulitan,”ujarnya.

Banyaknya motif kearifan lokal diangkat dari sisi etnisnya. Ia memilih menuangkan ragam budaya tidung kedalam motif. Sungkul Baloy, Tanduk Galung, Padau Tujuh Dulung, ada juga flora fauna asal Kalimantan, seperti Bekantan dan Buah Terap. Keunikan yang dijadikan motif menggunakan metode ATM atau Amati, Tiru dan Modifikasi. Pola yang diambil harus bisa diimprove untuk menjadi lebih nyentik dam unik, tidak mesti menampilakan objek secara utuh. Misalnya Burung Enggang, hanya diambil dua ciri khasnya, jambul dan paruh.

“Buat corak ga harus plek ketiplek Buah Terap atau Burung Enggang. Hanya menampilkan ciri objek itu,”katanya.

Bapak tiga anak ini sudah menghasikan ratusan motif beserta alat capnya, 20 diantaranya terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Mudahnya motif tidak sejalan dengan menuangkan ke dalam warna, ketidakhatiaan bisa membuat warna luntur dan berantakaan. Belum lagi faktor cuaca yang mempengaruhi kesesuaian warna. Gampang susahnya pertikaian yang muncul dalam perjalanannya membatik tidak membuat asa tergerus. Mimpi besarnya melestarikan hingga regenerasi ilmu membatik. Mulai dari keluarga inti, Gen Z, sampai merangkul difabel.

“Saya didik sekitar 25 orang difabel pada tahun 2020. Sekarang tinggal tiga orang yang aktif, sisanya sudah menyebar kesana kesini tidak lepas dari batik,”ujarnya.

Mengajar difabel pun tidak mudah, masih ada kesulitan yang muncul. Harus mempelajari bahasa isyarat, lantaran amnak didknya ada keterbatasan berbicara dan pendengaran.

“Kalau saya teriak-teriak percuma saja, mereka ga paham. Saya yang harus belajar bahasa isyarat, untuk mereka memahami batik,” tutur Sonny.

Satu mimpi besarnya terwujud difabel yang didiknya mampu menguasai teknik membatik hanya dalam kurun waktu tiga bulan bisa membuat motif.

Tiga anak didiknya yang aktif masih berproduksi dan menghasilkan kinerja yang baik.

“Saya mau ada regenerasi kepelajar juga. Terkadang mereka studi banding ke galeri sambil belajar, apalagi ada materi batik disekolah, saya masuk disitu sebagai pengajar. Sampai Tanjung Selor (Bulungan) dan Krayan (Nunukan), bukan teori tapi langsung praktek.,”jelasnya.

Kalau bicara mengenai Gen Z, menurutnya, kecenderungan untuk membatik itu tipis, "suka ga suka mereka harus ikuti praktek tugas sekolah," pesan Kang Sonny jangan hanya mengadopsi budaya luar, tapi tetap melestarikan budaya lokal, salah satunya batik.

“Memang generasi mudah sulit untuk mencintai batik, tapi kalua sekarang tidak dimulai dari pembatiknya sendiri dan pemerintah ya kapan lagi,” tambahnya.

Sebenarnya keinginan Sonny dengan menggandeng difabel maupun regenerasi muda, untuk membuka lapangan usaha dan peluang pekerjaan. Terlebih lagi kualitas batik miliknya mampu bersaing dengan produk Jawa. Kelemahan yang muncul terletak dibahan baku yang hanya bisa didapatkan di Pulau Jawa.

Ongkos kirim yang mahal mempengaruhi harga jual batik, akhirnya terjadi perbedaan harga di Tarakan khusunya Kalimantan Utara.

“Di Jawa Rp70.000 jadi kemeja, disini Rp350.000 baru bahan baku belum lagi ongkos kirimnya ngeri, tapi rata-rata pembeli kalau sudah paham itu pasti membeli. Kita kan pelan-pelan mengedukasi, Allhamdulilah batik yang harga Rp1 juta dicari-cari,” terangnya.

Ternyata membatik bisa menjadikan bisnis yang menjajikan, terbukti dengan banjirnya orderan yang membuat ia kewalahan. Sedangkan batik tulis membutuhkan waktu tiga minggu dan batik cap dengan ukuran 2x25 meter perlu waktu satu hari.

Lisa, Menantu Sonny Lolong saat memberi warna pada motif. (Foto: Faris untuk RRI Tarakan)

Syaiful, anak ketiga Sonny mengakui sempat ada kesulitan pada proses pewarnaan. Namun, ia sekarang sudah menguasai Teknik membatik. Apalagi Sebagian besar alatnya sudah modern.

“Alatnya cukup sederhana, sepeti canting modern. Batik cap ya pake cap seperti stempel yang terbuat dari tembaga. Batik tulis perlu waktu untuk menggambar, belum lagi mencantingnya. Tapi saya sudah pro membatik. Kendala kita hanya pewarnaan, semua tergantung cuaca,” ungkapnya.

Delvina Eda Wae saat membatik di D’ERTE. (Foto : Faris untuk RRI)

Panjangnya proses membatik yang mudah juga dialami oleh Delvina Eda Wae. Pelajar lulusan SMKN 1 Tarakan jurusan desain dan produksi busana tahun 2024. Ia sempat magang praktik kerja lapangan (PKL) sekitar enam bulan digaleri batik D’ERTE Tarakan. Selama itu banyak hal yang diajarkan, mulai dari cara ngeblok, mewarnai motif gunakan kuas kecil, juga dikenalkan jenis kain untuk membatik.

Bagi Delvina membatik itu menyenangkan. Karena bisa lebih fokus dan kreatif, tidak gampang bosan karena sering berimajinasi dengan warna. Banyak ilmu yang ia dapatkan, mencating dan mengecap motif, serta cara fiksasi dan perebusan kain untuk ngelepasin lilin pada kain. Menurut Delvina usia muda apalagi Gen Z bukan menjadi halangan untuk belajar membatik. Lain halnya jika sudah dikenalkan sejak sekolah, proses membatik yang seru pasti akan membuat anak muda tertarik.

“Membuat batik itu ga susah sih, mungkin waktu awal aja, karena belum ada basic dibidang batik. Memang harus sabar, telaten, prosesnya juga panjang. Sedangkan Gen Z banyak suka cepat-cepat, mudah bosan. Tapi banyak juga Gen Z yang cinta budaya lokal. Tinggal cari cara belajar dan sarana yang seru terus pas aja supaya bisa mulai belajar,” pungkas Delvina.

Rekomendasi Berita