Mengenal Usman Najrid, Pegiat Seni Tari Asal Tarakan
- 25 Agt 2025 14:07 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Mempertahankan identitas seni di suatu daerah tentu memiliki tantangan tersendiri, seperti di Kalimantan Utara, khususnya di Kota Tarakan.
Kota yang dikenal sebagai tempat merantau dan kota transit ini tentu akan mempengaruhi budaya lokal, namun dengan adanya pegiat/talenta seni yang fokus terhadap budaya lokal membuat nilai-nilai seni di Tarakan yang dikenal dengan Suku Tidung tetap eksis keberadaannya.
Ialah Usman, seorang pria asal Tarakan yang sejak usia Sekolah Dasar (SD) berkecimpung di dunia seni, khusunya seni tari. Dengan keterbatasan sarana dan media pembelajaran, Usman merelakan waktunya untuk dapat fokus mendalami seni tari bahkan hingga dirinya bisa mempersembahkan tarian hingga ke negeri Mesir.
Usman Najrid Maulana, S. Sn, pria kelahiran Tarakan, 14 Desember 1983 ini dari kecil telah menunjukan ketertarikannya pada kesenian, khususnya seni tari. Gemarnya terhadap tari lamakelamaan membangun jiwa seninya. Usman menjelaskan dulu ia merespons musik-musik yang ada dengan menari sehingga ia belum mengarahkan tariannya.

Usman saat diwancara. (Foto : Asy Syuhada Hamdansyaqir Rooroh/RRI Tarakan)
Waktu pun berlalu, Usman memasuki masa SMP (Sekolah Menengah Pertama), ia mengarahkan tariannya ke tradisional yaitu tari Tidung. Usman juga aktif mengikuti kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan kebudayaan Tidung sehingga tertanam rasa ingin tahu terkait Suku Tidung.
"Dulu aku merespon musik-musik yang ada dengan menari, lalu ketika masuk SMP disitulah aku dihadapkan dengan tari tradisional yaitu tari Tidung,” jelas Usman saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Selumit.
Lalu pada kelas 3 SMP tepatnya pada tahun 1999, Usman terpilih menjadi delegasi tari Tidung mewakili Indonesia di Filipina. Tak hanya itu, Usman juga mengikuti acara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-54 di Kota Kinabalu, Malaysia. Disana Usman mempersembahkan tarian Tidung kepada masyarakat setempat. Betapa terkejutnya Usman ketika mengetahui mayoritas masyarakat di Kota Kinabalu bersuku Toraja. Alhasil dominasi pertunjukan tari disana ialah tarian Toraja. Tarian dari Suku Toraja membuat Usman kagum karena mereka menampilkan budayanya serta menari seperti ditanah Toraja itu sendiri.
“Aku ngeliatnya mereka menari seperti ditanah Toraja itu sendiri. Dari situ bikin aku kuat lagi bahwa kemanapun kita berada, kita harus tetap bangga dengan identitasnya. Setelah itu aku pulang dan merasa bahwa aku harus lebih tahu serta belajar dengan tetua mengenai adat budaya Tidung,” ungkap Usman dengan rasa kagum.
Kisahnya berlanjut ketika Usman duduk dibangku SMA. Usman semakin aktif terlibat setiap perlombaan yang ada, karena keaktifannya itu yang membuat sekolah mengutus Usman untuk menjadi delegasi mewakili Tarakan agar mengikuti acara Otonomi Indonesia Expo di Jakarta. Usman melakukan perjalanan dari Tarakan ke Jakarta menggunakan kapal yang memakan waktu selama kurang lebih 7 hari.
Di Jakarta, Usman diberikan waktu 1 bulan untuk berlatih menari serta menampilkan gambaran kebudayaan Suku Tidung yang tertuang kedalam tariannya. Sebelum berangkat ke Jakarta, Usman telah mengikuti EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan UN (Ujian Nasional) sehingga ia tak perlu khawatir lagi.
Salah satu karya Usman yang diliput oleh salah satu majalah di Bali. “Alhamdulillah nya sempat mengikuti EBTANAS, tapi aku tidak mengikuti momen kelulusannya karena posisinya saat itu aku lagi di Jakarta. Tapi kan selama di Jakarta aku degdegan menunggu hasil kelulusan,” jelasnya sambil mengenang momen tersebut.

Usman beserta Murid tarinya dari SLB Tarakan. (Foto: IG Pagun Tenggara)
Keberadaanya selama 1 bulan di Jakarta membuat Usman semakin akrab dengan masyarakat sekital Hotel Prapatan. Karena sifat friendly nya itulah ia mudah mendapatkan teman. Usman memiliki teman yang telah menemaninya selama di Jakarta dengan nama panggilan Cing. Setelah mendapatkan kabar bahwa Usman lulus, ia merasa senang karena dapat melanjutkan minat bakatnya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun kesenangan itu tak bertahan lama tatkala ia merasa bingung karena dimana ia dapat melanjutkan minat bakatnya. Cing menyarankan Usman untuk masuk ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta).
Saran tersebut direspon baik oleh Usman. Namun, setelah berbincang dengan Pak Datu Norbeck, yaitu seorang budayawan senior asal Yogyakarta, Usman pun memutuskan untuk berkuliah di ISI (Institut Seni Indonesia). Meski sedih harus meninggalkan teman yang telah menemaninya di Jakarta, Usman harus merelakannya demi menambah wawasan tentang apa yang telah ia bangun bertahuntahun lamanya.
“Pak Datu bilang kalau di IKJ mengajarkan tari industial dan bukan tari tradisonal. Dari situ aku langsung memutuskan untuk masuk ke ISI,” Tambahnya.
Usman pun berangkat ke Jogja menaiki kereta. Sesampainya disana ia bertemu orang yang berasal dari Kalimantan, dari situ Usman dibawa ke asrama Kalimantan yang mana asrama tersebut menampung orang-orang rantau yang berasal dari Kalimantan. Usman semakin mudah tuk beradaptasi dikarenakan kebanyakan mahasiswa di asrama merupakan orang-orang dari Tarakan. Usman bersama kawan-kawan asrama membuat forum perkumpulan mahasiswa khusus anak Tarakan dengan tujuan agar dapat bertukar informasi tentang berbagai macam suku mengingat Tarakan dikenal sebagai tempat merantau yang terdiri dari bermacam-macam suku. Forum tersebut memiliki slogan “Jangan mengaku anak Tarakan kalau tidak mau belajar kesenian Tarakan".
Meski terdiri dari berbagai macam suku tak membuat forum perkumpulan tersebut terpecahbelah, justru dengan keunikan tesebut yang membuat mereka menjadi solid. Alhasil dengan kesolidan itu Usman dan Kawan-kawan mampu mengikuti berbagai acara serta perlombaan dan berhasil mengantongi juara 1. Dengan usaha, ketekunan serta doa, perjuangan Usman membuahkan hasil yang gemilang. Usman mampu mempersembahkan tarian Tidung ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Benua Afrika hingga ke Kota Seribu Menara yaitu Kairo dan Alexandria, Mesir.

Usman ketika mengajar murid tari. (Foto: IG Pagun Tenggara)
Di Mesir, Usman sempat berkunjung ke Universitas ber-gengsi pada waktu itu yaitu Universitas Al-Azhar. Usman terkejut bukan main mendapati bahwa hampir 70% mahasiswa di Al-Azhar merupakan mahasiswa dari Indonesia. Tak sampai disitu, waktu Usman pergi ke pasar di Mesir, mayoritas pedagang disana mahir dan lancar berbahasa Indonesia. Dengan pengalaman itulah yang membuat Usman semakin bangga dengan identitasnya sebagai warga negara Indonesia.
Sepulangnya dari Mesir, tepatnya pada tahun 2015, Usman mendirikan komunitas tari dengan tujuan dapat mendidik pemuda-pemudi berpotensi di Tarakan. Usman juga aktif mengikutkan murid-muridnya ke acara atau kegiatan yang berbau seni. Hari Tari Sedunia tak luput dari kehadiran Usman serta murid-muridnya, Usman berharap dengan partisipasi murid-murid di Hari Tari Sedunia mampu menambah kepercayaan diri mereka jikalau mereka sulit memperagakan suatu tari.
Dengan perjuangan Usman membuktikan bahwa seni merupakan suatu bagian dari budaya yang dapat membawa kepada kesuksesan. Maka dari itu pentingnya bagi kita sebagai manusia berbudaya agar dapat melestarikan seni budaya yang menjadi ciri khas suatu daerah. Karena tak bisa dipungkiri bahwa sewaktu-waktu akan ada suatu budaya yang hilang dari beradaban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....