Kisah Anak Desa Menjaga Warisan Leluhur Dayak Lundayeh
- 02 Jun 2025 22:22 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Nama Yonsep, S.E., M.P.A. mungkin lebih dikenal masyarakat sebagai sosok yang sigap turun ke lapangan saat banjir melanda atau bencana alam mengancam Kota Tarakan. Namun, dibalik kesibukannya sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), siapa sangka ia juga adalah seorang pecinta budaya yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Kota Tarakan untuk periode 2025–2030.
Dalam Program Acara Podcast “Kisah Pekan Ini” Pro 1 RRI Tarakan, Yonsep membagikan cerita masa kecilnya yang penuh perjuangan serta motivasinya dalam melestarikan budaya Dayak Lundayeh, warisan leluhur yang mulai tergerus zaman.
“Saya ini anak pedalaman, Mas,” ucap Yonsep dengan senyum mengenang masa kecilnya. Ia lahir di sebuah desa di daerah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Malinau. Pendidikan dasarnya ditempuh berpindah-pindah, mengikuti jejak ayahnya yang seorang gembala sekaligus pemuka agama yang kerap berpindah tugas.
Sekolah bukan perkara mudah kala itu. “Kami harus berjalan kaki satu setengah hingga dua jam dari ladang ke sekolah, menembus hutan dan embun pagi,” kenangnya. Bahkan, buku sekolah disimpan dalam bekas ‘wadah’ gula agar tetap kering saat terkena hujan atau menyeberangi sungai dengan perahu. Perjalanan itu tidak hanya menempuh jarak, tapi juga membentuk karakter.
“Kalau mau hidupmu berubah, hanya pendidikan yang bisa membawamu ke sana,” demikian pesan sang ayah yang tertanam kuat hingga kini. Hidup dalam keluarga besar dengan 13 bersaudara, ia sudah terbiasa membantu orang tua berladang dan mencari makan sejak kelas 3 SD.
Sebagai seorang pemerhati budaya, kepeduliannya pada budaya Dayak Lundayeh tumbuh dari keprihatinan. Ia menyadari bahwa budaya sukunya mulai tertinggal jika dibandingkan dengan sub-etnis dayak lainnya. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari letak geografis yang terpencil, minimnya tokoh budaya, hingga kurangnya regenerasi dalam pelestarian seni dan adat istiadat.
Namun, keterbatasan tersebut tak membuat Yonsep tinggal diam. Ia justru menginisiasi pendirian sanggar budaya khusus Dayak Lundayeh di Tarakan. Bersama istri, sanggar ini dibangun dengan harapkan menjadi wadah eksplorasi dan edukasi budaya yang terbuka bagi siapa pun, tak terbatas pada etnis dayak semata.
“Saat ini, penari di sanggar saya justru datang dari berbagai latar belakang, mulai dari Banjar, Jawa, Bugis, hingga Tidung. Jadi bisa dipelajari siapapun” jelasnya.
Menurut Yonsep, tarian Dayak Lundayeh bukan hanya soal gerakan, tetapi juga menyimpan pesan sosial dan filosofi kehidupan. Dalam budaya Dayak Lundaye yang tak memiliki aksara sendiri, pesan-pesan itu diwariskan melalui ukiran hingga tarian. Setiap gerakan, setiap bunyi alat musik, mengandung makna yang dalam.
Generasi muda, kata Yonsep, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pelestarian budaya ini. Keberadaan Tarakan sebagai kota pendidikan turut membantu tersedianya sumber daya manusia yang dapat digerakkan dalam upaya pelestarian.
Tak hanya itu, Yonsep juga tengah menyusun sebuah buku berjudul Peradaban Dayak Lundayeh di Kalimantan. Buku ini menjadi langkah dokumentasi penting agar sejarah dan nilai-nilai budaya Dayak Lundayeh tak hilang ditelan waktu.
“Kalau tidak didokumentasikan, generasi berikutnya tidak akan tahu dari mana mereka berasal. Buku ini semacam pengantar, selebihnya biarlah mereka yang mengeksplorasi dan mendalaminya,” tuturnya.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Lundayeh, banyak nilai luhur yang kini mulai jarang dilakukan. Misalnya, tradisi ritual sebelum membuka ladang, yang dahulu dilakukan untuk meminta izin kepada alam agar tidak merusak keseimbangan. Atau tradisi kepuhunan, yakni kepercayaan bahwa jika seseorang tidak menyentuh makanan atau minuman yang ditawarkan sebelum bepergian, maka ia akan mendapat celaka di jalan. Meski kini dianggap sebagai mitos, nilai etika dan penghormatan terhadap sesama masih sangat dijunjung tinggi.
Lebih jauh, budaya toleransi juga telah lama mengakar dalam masyarakat Dayak Lundayeh. Dalam hajatan besar seperti pernikahan, makanan disiapkan dengan memperhatikan keyakinan tamu—dimasak secara terpisah, tetapi disantap bersama dalam suasana persaudaraan. “Toleransi itu sudah dipraktikkan oleh leluhur kami jauh sebelum negara ini lahir,” tegas Yonsep.
Kini, sebagai tokoh adat dan pemerhati budaya, Yonsep juga fokus melakukan konsolidasi internal organisasi kebudayaan yang sempat vakum akibat pandemi. Ia ingin memastikan bahwa upaya pelestarian budaya ini tidak hanya berhenti pada nostalgia, tetapi menjadi gerakan aktif dan berkelanjutan—mengakar di hati masyarakat dan hidup dalam keseharian.
Baginya, budaya bukan sekadar warisan, tetapi fondasi yang membentuk karakter, mengajarkan toleransi, dan memperkuat jati diri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....