Melihat Lebih Dekat Perjuangan Relawan Tarakan di Tanah Gaza
- 06 Mei 2025 10:13 WIB
- Tarakan
K BRN, Tarakan : Sosok mungil dan bersahaja ini mungkin tak menyiratkan ketangguhan seorang relawan kemanusiaan. Namun Indah Meliya Sari, perempuan asal Tarakan, justru memberanikan diri terjun ke salah satu wilayah konflik paling panas di dunia sebagai relawan unpaid volunteer di Medical Emergency Rescue-Committe (MER-C).
Dalam wawancara eksklusif di acara Kisah Pekan Ini Pro 1 RRI Tarakan, Indah mengungkapkan momen haru saat kembali menginjakkan kaki di Indonesia setelah menjalankan misi kemanusiaan.
"Alhamdulillah, ketika pesawat mendarat di Jakarta, rasanya luar biasa. Saya kembali ke tanah air yang aman dan damai," ujar Indah dengan mata berbinar. Ia menambahkan bahwa kebahagiaan semakin lengkap saat bisa memeluk kembali kedua orang tuanya di Tarakan.
Keputusan Indah untuk menjadi relawan di daerah konflik tidak datang tanpa tantangan. Ia mengaku sempat dua kali mendaftar sebagai relawan, dan baru pada kesempatan kedua ia mendapatkan izin dan ridha dari orang tuanya.
"Respon orang tua waktu saya daftar kedua kali memang kaget, tapi tidak sekaget yang pertama. Karena memang di aplikasi pendaftaran MER-C harus ada tanda tangan persetujuan orang tua," ujarnya.
Tiga hari sebelum keberangkatan, Indah dan orang tuanya diwawancarai langsung oleh Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr. Hadiki, yang saat itu sedang berada di dalam Gaza. "Jadi orang tua saya mendengar langsung kondisi di lapangan dari beliau yang sedang berada di lokasi konflik. Mungkin itu yang membuat mereka akhirnya lebih ikhlas," ungkapnya.
Ketika ditanya soal motivasi terdalamnya, Indah menjawab lugas: "Lillahi ta’ala. Ini semacam jihad profesi saya sebagai tenaga medis." Ia tahu betul risiko yang menanti, namun semua dijalani dengan penuh keikhlasan.
Indah mengungkap bahwa ia sudah mengikuti perkembangan MER-C Indonesia sejak 2009 melalui media sosial, dan saat konflik Gaza kembali pecah pada 7 Oktober, ia langsung menghubungi kontak person yang tertera untuk menanyakan kualifikasi relawan.
"Semua tenaga medis dibuka kesempatannya, baik yang sudah berpengalaman maupun belum. Prosesnya cukup panjang, harus melalui WHO, dan izin dari otoritas Israel," jelasnya.
Perjalanan ke Gaza pun bukan hal mudah. Dari Tarakan ke Jakarta, lalu transit di Doha (Qatar), dilanjut ke Yordania. Dari sana, ia dan tim harus melewati titik-titik militer yang dijaga ketat, termasuk masuk lewat perbatasan Karem Shalom, wilayah yang dikendalikan tentara Israel.
"Pas pertama kali lihat tentara Israel, jujur, lebih ke rasa kesal sih. Dalam hati, 'ini toh yang selama ini ngebom?' Tapi ya harus tetap pasang muka senyum karena kita harus lewat mereka," katanya.
Indah termasuk dalam gelombang kedua misi kemanusiaan Indonesia ke Gaza bersama dua rekan lainnya. Ia menegaskan bahwa hanya MER-C Indonesia yang dipercaya WHO sebagai perwakilan dari Indonesia dalam misi Emergency Medical Team di kawasan itu.
"Semua akses masuk kami dikontrol ketat. Pemeriksaan oleh pihak Israel sangat detail, benar-benar keamanan tingkat tinggi. Tapi alhamdulillah kami lolos," pungkasnya.
Selama berada di Gaza, Indah sempat menangani berbagai kasus medis yang tak biasa. Awalnya, ketika gencatan senjata atau ceasefire masih berlangsung, pasien-pasien yang datang umumnya adalah korban luka akibat reruntuhan bangunan.
“Banyak anak-anak dan orang dewasa yang datang dengan luka robek di kepala karena tertimpa sisa puing. Mereka tinggal di reruntuhan rumah, jadi sangat rawan cedera,” jelas Indah.
Namun situasi berubah drastis setelah 18 Desember, saat gencatan senjata dicabut dan bom kembali menghujani Gaza.
“Sejak itu, korban luka akibat bom terus berdatangan. Suasana berubah jadi sangat mencekam,” kenangnya.
Sebagai bidan, Indah juga sempat penasaran dengan satu fenomena luar biasa yang sempat viral di media sosial: angka kelahiran yang hampir sebanding dengan jumlah korban syahid.
“Saya tanya langsung ke warga lokal dan staf MER-C di sana, dan mereka semua bilang, ‘Iya, itu keajaiban dari Allah.’ Betul-betul terjadi,” ujarnya terharu.
Setelah dua bulan bertugas di Gaza, Indah menyaksikan langsung kondisi krisis yang melanda wilayah tersebut. Terputusnya akses bantuan sejak awal maret membuat kebutuhan medis dan kemanusiaan di Gaza berada di titik paling kritis.
“Sebenarnya seluruh bantuan medis dibutuhkan. Semuanya. Karena sejak tanggal 2 Maret, perbatasan Karem Shalom ditutup total. Jadi tidak ada satu pun bantuan masuk dari luar,” jelas Indah.
Akibat blokade tersebut, semua pelayanan medis di Gaza hanya mengandalkan sisa stok yang ada. Termasuk alat operasi, obat-obatan, hingga perlengkapan dasar rumah sakit. Saat tim Indah meninggalkan Gaza pada 22 April, informasi dari WHO menyebutkan bahwa stok medis hanya tersisa 50%.
“Kalau ada yang tertimpa bangunan atau jadi korban bom, ya ditangani seadanya. Menggunakan peralatan yang tersisa. Dan itu pun makin hari makin menipis,” tambahnya.
Meski dalam kondisi sulit, Rumah Sakit Indonesia yang dibangun oleh MER-C sejak 2009 masih berdiri dan menjadi tumpuan harapan. Rumah sakit ini sempat hancur akibat serangan, namun dibangun kembali oleh tim relawan medis tim 6 dan 7.
“Alhamdulillah, MER-C juga menjalankan program pembangunan kembali rumah sakit, pembagian makanan, dan tetap membantu masyarakat Gaza meski krisis melanda,” ujar Indah.
Tidak hanya fasilitas medis, ketersediaan makanan juga sangat terbatas. Blokade darat, laut, dan udara membuat harga-harga bahan pokok melonjak ekstrem. Satu butir telur, misalnya, bisa mencapai Rp55.000.
“Awalnya kami bawa makanan dari Indonesia. Tapi cuma cukup setengah bulan. Setelah itu kami harus membeli dari pasar. Dan di situlah kami benar-benar lihat daya juang mereka,” kenangnya.
Menurut Indah, warga Gaza masih tetap bertahan hidup dengan cara berdagang, bercocok tanam, dan bahkan melaut, meski di tengah bayang-bayang serangan.
“Mereka masih berjualan, masih ke pantai untuk mencari hiburan, masih bertani dan memelihara ayam. Saya melihat, benar, manusia terkuat itu ya mereka. Di bumi Gaza,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Inda mengungkapkan bahwa dalam seminggu, ada masa di mana para tenaga medis harus bekerja hingga 42 jam nonstop. Bukan karena keinginan, melainkan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan.
"Mereka kerja 42 jam di rumah sakit karena keterbatasan. Jadi ya itu, kadang mereka kolaps sendiri," jelas Indah.
Di tengah situasi berbahaya, Indah dan relawan lainnya juga menyadari risiko besar yang mereka hadapi. Pasukan Israel tidak hanya menyerang kelompok militan, tapi juga warga sipil, bahkan relawan dan fasilitas internasional.
“Di Gaza tidak ada tempat yang aman. Tapi kami tetap bertahan, karena mereka butuh kami. Kami hanya bisa berikhtiar,” kenang Indah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....