Dolar Naik, Petambak Terjepit Kenaikan Benih dan Obat

  • 09 Jun 2026 17:26 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN - Kenaikan dolar terhadap nilai tukar rupiah, ternyata berdampak buruk kepada para petambak tradisional di Provinsi Kaltara.

Margin keuntungan terancam tergerus akibat meroketnya biaya logistik pengiriman bahan baku dari luar daerah seperti

Dr. Ana Sri Eka Ningsih memaparkan adanya ketimpangan rantai pasok dari hulu ke hilir. Analisisnya, sebagian besar kebutuhan produksi budidaya perikanan di Tarakan seperti benih bermutu, pakan khusus, hingga obat-obatan tambak masih harus didatangkan dari luar pulau. Distribusi antarwilayah ini sangat bergantung pada jalur transportasi darat dan laut yang biayanya ikut naik seiring perubahan makro ekonomi.

"Dampak negatif dari dinamika ini langsung memukul para petambak lokal di tingkat hulu. Meskipun mereka tidak bersentuhan langsung dengan transaksi ekspor berbasis dolar, mereka menghadapi kenyataan bahwa harga obat-obatan, benih, dan sarana produksi lainnya naik karena biaya logistik luar daerah yang melambung," jelasnya, belum lama ini.

Kondisi tersebut menuntut para petambak untuk lebih cermat dalam mengelola pengeluaran operasional. Apabila permintaan pasar ekspor di tingkat hilir tetap stabil, biaya tinggi di hulu ini diperkirakan masih bisa tertutupi oleh nilai serap komoditas yang tinggi. Namun, tata niaga dan stabilitas harga distribusi logistik domestik perlu segera mendapat perhatian serius agar tidak mematikan mata pencaharian para petambak kecil.

Berdasarkan data yang dihimpun di sejumlah agen penyalur sarana produksi perikanan (saprokan) di Tarakan, harga pakan udang dan kapur pertanian mengalami kenaikan berkisar 10-15 persen dari harga normal.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada obat-obatan binaan pembasmi hama tambak dan suplemen organik pertumbuhan udang, yang sebagian besar bahan aktifnya masih merupakan produk impor dari luar negeri.

Sistem transaksi "tukar hasil" atau ketergantungan modal pada pos-pos tengkulak kini mulai membayangi para petambak tradisional. Akibat modal kerja yang membengkak di awal masa tebar benur. Tidak sedikit petambak yang terpaksa meminjam dana segar atau mengambil saprokan dengan sistem utang yang dibayar saat panen (yarnen).

Pola ini dikhawatirkan dapat memperlemah posisi tawar petambak saat menentukan harga jual komoditasnya kepada para pengumpul.

Untuk memutus rantai ketergantungan logistik luar daerah, penguatan fungsi balai benih sentral dan laboratorium pakan lokal milik daerah dinilai mendesak untuk dioptimalkan.

Dr. Ana menyarankan agar pemda bekerja sama dengan akademisi untuk menggalakkan pelatihan pembuatan pakan mandiri berbasis bahan baku lokal serta teknik budidaya alami.

Langkah ini diharapkan mampu memangkas biaya operasional hulu hingga 30 persen, sekaligus menjaga kedaulatan sektor perikanan Tarakan dari gejolak ekonomi global. (Setya)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....