Eksportir Perikanan di Kaltara Raih Untung dari Kenaikan Dolar
- 09 Jun 2026 17:40 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN - Tren kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir, membawa angin segar bagi sektor investasi dan perdagangan luar negeri di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Para pelaku usaha komoditas ekspor, khususnya di sektor perikanan seperti udang dan rumput laut, dilaporkan meraup keuntungan besar dari situasi ini.
Pengamat Ekonomi sekaligus Akademisi Kota Tarakan, Dr. Ana Sriekaningsih, mengatakan bahwa penguatan mata uang dolar AS memberikan dampak positif langsung (insentif margin) bagi para eksportir daerah. Hal ini dikarenakan hasil penjualan komoditas yang menggunakan standar mata uang asing akan bernilai jauh lebih besar saat dikonversikan ke dalam mata uang rupiah.
"Sisi positif dari kenaikan dolar ini dirasakan langsung oleh pengusaha yang berorientasi ekspor, misalnya pengusaha udang, kepiting, dan rumput laut. Otomatis, ketika mereka menerima pembayaran dalam bentuk dolar, begitu dirupiahkan nominalnya menjadi berkali-kali lipat lebih besar," ujar Dr. Ana saat menjadi narasumber dalam program Dialog Tarakan Siang Ini di RRI Tarakan, Selasa (9/06/2026).
Sektor perikanan merupakan salah satu pilar utama penggerak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kaltara. Dengan adanya stimulus berupa penguatan mata uang dolar, gairah perdagangan ekspor di pelabuhan-pelabuhan Tarakan diprediksi akan terus mengalami peningkatan volume dalam jangka pendek. Pemda diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong standarisasi produk lokal agar mampu bersaing lebih luas di pasar global.
Kendati demikian, Dr. Ana mengingatkan bahwa keuntungan berlipat ini tidak boleh membuat para pelaku industri hilir terlena. Penguatan dolar bak pisau bermata dua. Bagi perusahaan cold storage yang masih mengandalkan komponen impor seperti plastik kemasan standar ekspor, bahan kimia pembeku, hingga suku cadang mesin pabrik akan menghadapi penyesuaian biaya operasional yang ikut membengkak.
"Keseimbangan antara efisiensi biaya internal dan pemanfaatan keuntungan kurs menjadi kunci keberlanjutan usaha," tuturnya. (setya)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....