Pengrajin Batik Tarakan Sulap Limbah Jadi Canting Cap

  • 21 Mei 2026 08:50 WIB
  •  Tarakan
Poin Utama
  • Batik khas Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Keterbatasan bahan baku dan mahalnya peralatan membatik tidak menjadi penghalang bagi industri kreatif di Kalimantan Utara (Kaltara).

Seorang pengrajin lokal yang akrab disapa Kang Sony, sukses menciptakan inovasi ramah lingkungan dengan memproduksi canting cap batik menggunakan bahan dasar limbah daur ulang. Langkah ini diambil guna mengatasi ketergantungan para perajin batik setempat terhadap alat membatik konvensional.

Inovasi kreatif ini berawal dari pengamatan Kang Sony terhadap kebutuhan para perajin batik cap di wilayah Tarakan dan Kaltara. Selama ini, para pelaku usaha batik lokal harus mendatangkan canting cap berbahan tembaga dari luar daerah dengan harga yang cukup tinggi. Kondisi tersebut memicu dirinya untuk mencari alternatif bahan baku lain yang lebih terjangkau.

Melalui proses pencarian ide di internet, Kang Sony akhirnya menemukan formula untuk memanfaatkan limbah kertas dan karton tebal sebagai pengganti tembaga. Bahan-bahan sisa tersebut dipotong rapi dengan ketinggian sekitar 1,5 sentimeter sebelum dibentuk menjadi pola batik. Potongan kertas tersebut kemudian ditempelkan secara teliti pada media papan triplek bekas.

Meskipun terbuat dari bahan sisa daur ulang, hasil cetakan motif batik yang dihasilkan oleh canting kertas ini tidak kalah rapi dibandingkan dengan tembaga. Proses pembuatan pola cetakan dapat dilakukan langsung di atas kertas atau digambar terlebih dahulu pada triplek penopang. Alat membatik inovatif ini terbukti fungsional dan siap digunakan untuk proses pengecapan lilin malam.

Dari sisi ekonomi, produk buatan Kang Sony ini menawarkan efisiensi biaya yang sangat signifikan bagi para pembatik lokal. Jika satu buah canting cap dari bahan tembaga di pasaran mencapai harga Rp1 juta rupiah, canting limbah kertas hanya dibanderol dengan kisaran Rp150 ribu-Rp200 ribu.

Selain melayani pesanan komersial dari berbagai pihak, ia juga menggunakan alat buatan sendiri untuk keperluan produksi harian. "Daya tahan dari canting cap ramah lingkungan ini dinilai cukup baik dan sangat bergantung pada bagaimana cara pemakaian serta perawatan dari pengguna setelah proses membatik selesai dilakukan," tegasnya.

Kehadiran inovasi ini diharapkan dapat menekan beban biaya produksi dan meningkatkan produktivitas para pelaku usaha batik lokal di Kaltara. Dengan barang bekas bernilai guna tinggi, usaha kreatif dari Tarakan ini menjadi contoh nyata dari pengembangan potensi daerah yang ramah lingkungan sekaligus ramah di kantong. (ADR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....