Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
- 24 Mei 2025 07:12 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan : Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian global menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Mulai dari dampak pandemi, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga fluktuasi harga komoditas dan suku bunga global semuanya menciptakan iklim ketidakpastian yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Mozaik Indonesia Pro1 Tarakan mencoba membahasnya bersama Direktur Politeknik Bisnis Kaltara Dr. Ana Sriekaningsih, S.E., S.Th., M.M. Adapun faktor Ekonomi yang tidak menentu di era saat ini yaitu dampak pandemi, konflik geopolitik, perubahan iklim, dan fluktuasi harga komoditas dan suku bunga global.
Adapun juga Dr. Ana berpendapat salah satu faktornya juga dikarenakan oleh perang dagang antara China dan Amerika, yang berdampak pada kebijakan ekonomi global termasuk Indonesia.
"Cina sama Amerika. Nah, mereka lagi perang entah perang dagang, entah perang dingin dan lain sebagainya, sehingga mereka memiliki strategi-strategi bagaimana untuk memenangkan ekonomi mereka gitu ya. Saling ya melindungi dirinya dan juga ekonomi di dalam negerinya. Tetapi hal apa yang diambil mereka pasti berdampak kepada dunia. Nah, Indonesia juga pasti punya dampak. Contohnya baru kemarin itu kan Amerika menaikkan apa namanya? tarif impor 32%, otomatis kan kalau kita berbicara naik, kenaikan harga itu tarif impor. Nah, bagi pengusaha yang ada di Indonesia ah tentunya yang punya basic atau bahan baku dari sana mikir", jelasnya.
Adapun dampak dari ketidakpastian ekonomi global saat ini juga berdampak pada Indonesia, dimana adanya penyesuaian tarif impor oleh Amerika berdampak pada biaya bahan baku di Indonesia, dampak pada daya beli dan produksi di dalam negeri, dan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia untuk merangsang ekonomi domestik.
Dr. Ana juga menyampaikan bahwa pentingnya peran pemerintah dalam situasi saat ini dimana melakukan penurunan suku bunga, hal itu sebagai strategi menguatkan ekonomi domestik, selain itu juga ia mengatakan perlunya pelatihan bantuan, dan mempermudah perizinan untuk UMKM, dan infrastruktur untuk mendukung ekonomi digital. "Bagaimana pemerintah supaya kita dapat bersaing. Nah, tadi dengan penurunan suku bunga saya rasa sudah ya kan. Terus mungkin ada pelatihan, mungkin ada lagi bantuan yang tadi itu perizinan dengan mudah terus atau bantuan, dengan tidak ada jaminan ataupun tidak ada bunga seperti apa KUR itu dulu kan ada ya. Pemerintah dan Bank Indonesia meluncurkan program pinjaman tersebut gitu. Nah, ini semua kan dampaknya ke mana? Nah, kalau UMKM itu bisa menggeliat, maka kan kembali lagi ke pertumbuhan ekonominya kita. Jadi, ya dalam negeri atau domestik harus diperkuat. Diperkuat, ya. Artinya pemerintah juga harus hadir".
Namun ditengah ketidakpastian itu Dr. Ana juga memberikan tanggapannya mengenai sektor mana saja yang rentan dan juga berpotensi untuk tumbuh, untuk sektor rentan sendiri ia berpendapat bahwa sektor yang mengandalkan bahan baku dan pangsa pasar luar negeri, contohnya industri tekstil yang bergantung pada pasar Amerika. Untuk sektor yang mungkin berkembang ia berpendapat bahwa sektor pariwisata, kuliner dan produksi kebutuhan pokok seperti sayuran dan buah-buahan.
Untuk itu di tengah ketidakpastian ini ia mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....