Budaya Tidung, Benteng Identitas di Perbatasan
- 12 Mei 2026 10:57 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN - Identitas bangsa di garis perbatasan Indonesia–Malaysia kini menghadapi tantangan serius.
Berdasarkan riset dalam tiga tahun terakhir oleh Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), nilai-nilai luhur permainan tradisional maupun ritual adat suku Tidung mulai memudar karena tidak lagi dipraktikkan generasi muda.
Memudarnya bahasa dan tradisi lokal dinilai bukan sekadar kehilangan warisan leluhur, melainkan ancaman nyata terhadap kedaulatan dan sisi keindonesiaan di wilayah tersebut. Sebagai respons, revitalisasi budaya Tidung kini mulai merambah dunia pendidikan formal.
Penggiat budaya Tidung sekaligus Dosen Universitas Borneo Tarakan, Muhammad Arbain, telah menyusun sejumlah buku yang memuat nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Tidung sebagai bahan ajar. Pada 2023, kurikulum muatan lokal bahasa dan budaya Tidung resmi diluncurkan oleh Wali Kota Tarakan dan mulai diterapkan di sejumlah sekolah dari jenjang kelas 1 hingga 6.
"Tujuannya adalah bagaimana berbagai macam nilai-nilai budaya maupun kearifan lokal itu dapat terrevitalisasi. Kemudian menjadi bahan yang diteruskan ke bidang pendidikan. Buku yang disusun tim guru Tidung ini sudah layak dipakai di Tarakan untuk tingkat SD dan SMP," jelas Muhammad Arbain.
Keberadaan budaya Tidung juga dipandang sebagai benteng identitas sosial di kawasan perbatasan. Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Palangkaraya sekaligus pemerhati isu perbatasan, Dr. Wahyudi, menegaskan bahwa pelestarian budaya Tidung, termasuk kuliner dan adat istiadat merupakan representasi nyata kehadiran negara di wilayah terluar.
"Keberadaan budaya suku Tidung ini sebagai benteng terdepan sangat penting. Irau Tengkay dan Irau Borneo Tidung Bersatu di Nunukan menjadi hal penting dalam upaya pelestarian budaya, sekaligus menunjukkan benteng identitas sosial di kawasan perbatasan," bebernya.
Dengan sinergi antara riset akademis, penerapan kurikulum di sekolah, dan dukungan pemerintah daerah, diharapkan kebesaran suku Tidung dapat kembali bangkit sebagai penguat pertahanan budaya serta kedaulatan negara di wilayah utara Indonesia. (setya)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....