Abadi Melalui Tulisan, Cara Muhammad Arbain Rawat Budaya Tidung

  • 26 Mar 2026 08:43 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Sosok Muhammad Arbain membuktikan bahwa tinta penulis bisa menjadi tameng bagi budaya yang terancam punah. Hadir dalam Obrolan Budaya RRI Tarakan bersama penyiar Agus Maulana, dosen muda ini berbagi semangat tentang betapa krusialnya membukukan tradisi lisan agar tidak menguap ditelan waktu.

Perjalanan literasi Arbain dimulai sejak tahun 2012. Dari sekian banyak karyanya, "Buku Pintar Kebudayaan Tidung" menjadi buku "babon" yang mengulas tuntas mulai dari silsilah kerajaan, ritual, hingga permainan tradisional. Baginya, menulis budaya adalah sebuah kewajiban moral sebagai putra daerah.

"Dalam mengumpulkan data harus berburu manuskrip kuno hingga mewawancarai para tetua adat, termasuk tokoh Datu Norback, demi memastikan kesahihan informasi yang ia tulis.

Menariknya, buku-buku Arbain kini telah melanglang buana hingga ke Malaysia dan Sabah. Hal ini membuktikan bahwa kerinduan akan identitas budaya bersifat universal. Banyak warga Tidung di perantauan yang menggunakan buku karyanya untuk mengenal kembali akar budaya mereka.

Arbain juga menyoroti fenomena terkikisnya ritual tradisional seperti "Besitan" atau pengobatan alternatif kuno. Melalui tulisannya, ia mencoba mengabadikan nilai-nilai tersebut agar setidaknya tetap dikenal secara intelektual oleh generasi mendatang.

Transformasi dari literasi fisik ke digital juga ia lakoni dengan apik. Lewat konten kreatif di media sosial, Arbain berhasil menarik perhatian netizen dengan tantangan kosakata bahasa Tidung yang unik dan edukatif.

Upaya gigihnya membuahkan hasil manis ketika kurikulum Muatan Lokal (Mulok) bahasa Tidung mulai diimplementasikan di Tarakan pada tahun 2024. Ini menjadi langkah nyata sinergi antara penulis, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga eksistensi budaya lokal.

Program Obrolan Budaya ini diakhiri dengan kutipan filosofis "Aku menulis maka aku ada". Arbain berharap semangatnya dapat menular kepada pemuda lain untuk terus berkarya dan mencintai budaya sendiri di tengah arus globalisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....