Tren Coffee Shop di Tarakan: Dari Sekadar Hobi Jadi Gaya Hidup
- 25 Mar 2026 08:42 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan – Fenomena menjamurnya kedai kopi di Kota Tarakan kini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan telah bertransformasi menjadi identitas budaya kontemporer. Muhammad Asbullah, seorang roaster dan barista bersertifikat BNSP, mengungkapkan bahwa kopi kini menjadi bahasa pergaulan global yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat di Kalimantan Utara.
Dalam program Obrolan Budaya di RRI Tarakan, Asbullah menyebutkan bahwa setiap sudut kota kini hampir selalu terisi oleh tempat ngopi.
"Dahulu kopi mungkin dipandang sebagai komoditas hitam yang pahit, namun sekarang kopi adalah narasi. Di balik meja bar, ada proses panjang dari petani hingga ke cangkir penikmatnya," ujarnya.
Perbedaan budaya ngopi zaman dulu dan sekarang sangat signifikan. Jika dulu masyarakat lebih akrab dengan kopi instan di teras rumah, kini generasi muda lebih memilih manual brew dengan alat modern. Tak hanya soal rasa, estetika tempat dan metode penyeduhan menjadi daya tarik utama bagi kaum urban di Tarakan.
Asbullah juga menyoroti peran media sosial dalam memperluas budaya ini. Vibes yang diciptakan melalui konten visual membuat kedai kopi lokal kini dianggap lebih prestisius dibandingkan merek waralaba global. Racikan tangan UMKM lokal dinilai lebih pas dengan lidah masyarakat setempat dibandingkan kopi pabrikan.
Kopi juga menjadi jembatan bagi berbagai ide besar, mulai dari diskusi bisnis hingga obrolan politik. Menurutnya, banyak keputusan penting lahir dari meja kopi. Hal ini yang membuat pemerintah kota sempat menjuluki Tarakan sebagai kota dengan "1001 kafe".
Terkait kesehatan, Asbullah menyarankan bagi penderita asam lambung untuk memilih jenis Arabika. Arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan Robusta. Ia juga menekankan pentingnya mengimbangi konsumsi kopi dengan air putih yang cukup untuk menjaga kebugaran tubuh.
Menatap masa depan, Asbullah optimis industri kopi di Tarakan akan terus meningkat. Selama masih ada interaksi manusia, kebutuhan akan kopi tidak akan pernah redup. Budaya ngopi akan terus bertahan melintasi berbagai generasi, dari anak muda hingga orang tua.
Ia berpesan agar para penikmat kopi tetap saling menghargai perbedaan selera. "Kopimu kopimu, kopiku kopiku. Tidak perlu membandingkan atau merendahkan produk orang lain, yang penting adalah esensi dari obrolan saat menikmati kopi tersebut," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....