Dorong Kemandirian Ekonomi, Pertamina Kembangkan Budidaya Kepiting Bakau

  • 10 Agt 2026 22:13 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN : Kepiting bakau kini menjadi salah satu potensi lokal yang mulai dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Program tersebut diawali dengan pelatihan budidaya kepiting bakau yang melibatkan kelompok masyarakat di Kota Tarakan. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis potensi daerah.

Area Manager Communication, Relations and CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, mengatakan pengembangan budidaya kepiting bakau merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Menurutnya, kepiting bakau dipilih setelah pihaknya bersama konsultan melakukan pemetaan sosial (social mapping) untuk mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan di Tarakan.

“Ini adalah pelatihan budidaya kepiting bakau. Tentunya berdasarkan hasil social mapping yang dilakukan oleh teman-teman FT Tarakan dengan teman-teman dari konsultan, bahwa yang berpotensi untuk dikembangkan ke sini sebagai potensi daerah di Tarakan adalah kepiting bakau,” kata Edi, Senin (10/8/2026).

Pelatihan tersebut menjadi tahap awal sebelum Pertamina menyiapkan berbagai fasilitas penunjang bagi kelompok masyarakat penerima manfaat. Fasilitas tersebut nantinya digunakan untuk mendukung proses pemeliharaan dan budidaya kepiting bakau di lokasi yang akan ditentukan bersama.

“Setelah pelatihan ini selanjutnya akan juga kami siapkan fasilitas-fasilitas penunjang di mana warga atau para anggota kelompok ini bisa memulai untuk memelihara dan membudidayakan kepiting yang ada di wilayah yang nanti lokasinya ditentukan,” ujarnya.

Edi menegaskan, program TJSL Pertamina tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan. Lebih jauh, program tersebut diarahkan agar masyarakat mampu mengembangkan kegiatan secara mandiri dan berkelanjutan. “Kalau kita bicara TJSL ini ujung-ujungnya adalah menciptakan kemandirian. Kemandirian bagi masyarakat itu sendiri, bagaimana kemudian dari apa yang kita lakukan hari ini berdampak kepada mereka bisa mandiri untuk tumbuh berkembang,” jelasnya.

Pelaksanaan TJSL Pertamina juga mengacu pada ketentuan Kementerian BUMN, khususnya terkait prioritas wilayah di sekitar operasional perusahaan. Wilayah ring 1 menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program sebelum nantinya pengembangan dapat diarahkan ke wilayah ring 2 maupun ring 3, sesuai perkembangan program dan kesiapan masyarakat.

“Di setiap lokasi kami ada, karena seperti diatur dalam ketentuan Kementerian BUMN bahwa wilayah ring 1 dari operasional itu menjadi konsen utama untuk kita melakukan upaya Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL),” katanya.

Pengembangan program di setiap wilayah akan disesuaikan dengan kondisi, perkembangan, serta kesiapan masyarakat yang menjadi penerima manfaat.

Sementara itu, Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan, Hario Somapangestu, mengatakan pelatihan budidaya kepiting bakau tersebut masih berada pada tahap awal.

Sebelum masuk ke tahap pengembangan lebih lanjut, Pertamina terlebih dahulu melakukan sosialisasi dan pelatihan untuk melihat potensi serta kesiapan kelompok masyarakat. “Hari ini berinisiasi untuk melakukan agenda pelatihan budidaya kepiting bakau. Jadi ini masih di tahap penjajakan awal kami sebetulnya. Karena CSR-nya kita coba sosialisasi dulu terkait budidaya kepiting ini,” ujar Hario.

Dalam program tersebut, Pertamina menggandeng KSM Malundung Soekaraya dan POKMAS Antara. Kedua kelompok tersebut dinilai memiliki pengalaman dalam kegiatan budidaya sehingga program diharapkan dapat berjalan sesuai dengan kemampuan dan aktivitas masyarakat setempat.

“Kita menggandengnya dari KSM Malundung Soekaraya dan POKMAS Antara. Karena menurut kami CSR itu baiknya harus selaras dengan masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, kelompok masyarakat yang dilibatkan telah memiliki sarana dan fasilitas untuk menjalankan kegiatan budidaya. Pertamina kemudian memberikan tambahan pengetahuan melalui pelatihan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang masih diperlukan.

Dalam pelaksanaannya, Pertamina juga berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Dinas Perikanan serta pendamping dari perguruan tinggi. Dukungan perusahaan saat ini salah satunya diarahkan pada penyediaan fasilitas penunjang kegiatan budidaya. Beberapa perlengkapan yang telah disiapkan antara lain crab box, crab trap, dan jaring.

“Sejauh ini masih ada yang kita berikan, itu crab box, kemudian crab trap, jaring-jaring mungkin seperti itu. Kami tambahkan dengan kebutuhannya pembudidaya, apa-apa saja kita coba tambahkan,” pungkas Hario.

Melalui program tersebut, Pertamina berharap budidaya kepiting bakau dapat berkembang menjadi salah satu kegiatan produktif masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi lokal Tarakan sebagai sumber ekonomi berkelanjutan. (CRZ)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....