Green Eco Craft Tarakan, Dorong Pemuda Disabilitas Mandiri Ekonomi
- 09 Agt 2026 21:01 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, TARAKAN : Program pemberdayaan berbasis ruang lingkup kemitraan yang didanai BIMA Kemdiktisaintek resmi digelar di Gedung Perpustakaan Daerah Kota Tarakan pada Minggu (9/8/2026). Program tersebut diketuai Dr. Tinik Sugiati, M.M, dengan anggota Prof. Dr. Ing., Ir. Daud Nawir, ST., M.T, dan Dr. Meina Wulansari Yusniar SE,. M.Si.
Mengusung fokus pada kemandirian ekonomi inklusif, kegiatan bertajuk Inkubasi Kewirausahaan Inklusif Berbasis Greenecraft (Green Eco Craft) ditujukan untuk membekali ratusan pemuda disabilitas di Kalimantan Utara (Kaltara) dengan keterampilan wirausaha ramah lingkungan.
Kegiatan kolaboratif antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Borneo Tarakan (UBT) dengan komunitas AYS Indonesia (Association of Youth for Sustainability) Tarakan dirancang tidak hanya memberikan pelatihan teknis. Tetapi juga bantuan alat produksi langsung serta pendampingan wirausaha hingga tahap pemasaran.
Hari pertama adalah pendampingan pembuatan kerajinan berbahan dasar ecoprint. Kemudian hari kedua pendampingan penyusunan Business Plan Ecoprint, dan terakhir pendampingan pemasaran digital maupun kewirausahaan di era digital.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Dr. Tinik Sugiati, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa program ini dirancang secara berkelanjutan agar para peserta dapat langsung memproduksi kerajinan ramah lingkungan secara mandiri.
"Kegiatan sesuai dengan asta cita dan SDGs terkait pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, berkurangnya kesenjangan. Kegiatan pengabdian ini dirancang tidak hanya kegiatan praktik saja, tetapi praktik yang bisa dilanjutkan di kegiatan-kegiatan berikutnya sehingga kalian semua nanti bisa produktif. Makanya nanti seluruh alat yang digunakan untuk praktik ini akan kami serahkan agar teman-teman bisa praktik sendiri dan menjual peralatannya sendiri. Judulnya di sini adalah inkubasi, jadi tidak boleh berhenti sampai di sini saja," ujarnya dalam sambutan, Minggu (9/8/2026).
Pelatihan ini menghadirkan praktisi kerajinan ramah lingkungan, Chelsea, yang membagikan materi pembuatan ecoprint dan produk kerajinan berbasis prinsip ekologis. Selain itu, program ini turut menekankan integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Indikator Kinerja Utama (IKU) UBT dalam memberdayakan masyarakat rentan.
Inisiator dari AYS Indonesia, Abrar Putra Siregar, menekankan pentingnya membangun kesetaraan dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, khususnya dalam bidang wirausaha dan kesehatan.
"Kami menyebutnya teman-teman setara. Jadi tidak ada perbedaan antara saya, seluruh teman-teman di sini, dan teman-teman disabilitas. Dan teman-teman setara kami enjoy, nikmati kegiatannya, ilmunya, pasti semua ilmu sangat bermanfaat. Apapun nanti kegiatan yang diberikan dari Universitas Borneo Tarakan, ini benar-benar bisa diterima dengan sangat baik," ungkapnya.
Abrar menuturkan bahwa komunikasi dengan komunitas disabilitas, terutama tunarungu, membutuhkan empati tinggi. "Nafasnya mereka adalah bahasa isyarat. Pola komunikasi mereka menggunakan bahasa isyarat. Nah, itu yang menjadi motivasi kami per hari ini masih tetap konsen dengan teman-teman disabilitas," jelasnya.
Sementara Kepala Disperinaker Kota Tarakan, Agus Sutanto, S.Sos., M.AP., mengapresiasi langkah nyata UBT dan AYS dalam membuka ruang kerja mandiri bagi disabilitas. Apalagi masih terbatasnya penyerapan tenaga kerja disabilitas di sektor formal.
"Inkubasi kewirausahaan bagi penyandang disabilitas ini memang sangat penting untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan menghapus hambatan struktural di pasar kerja formal. Kegiatan ini tujuannya adalah membuka akses kemandirian teman-teman kita sebagai solusi, karena selama ini masih rendahnya penyerapan kerja khususnya di sektor formal," kata Agus Sutanto.
Ia juga mengungkapkan data bahwa terdapat lebih dari 921 penyandang disabilitas di Kota Tarakan yang membutuhkan akses pemberdayaan berkelanjutan. Sebagai bentuk intervensi hilir, Pemkot Tarakan siap memfasilitasi hasil karya Greenecraft untuk dipasarkan di gerai Dekranasda Kota Tarakan yang berlokasi di Mal Pelayanan Publik (MPP).
"Hasilnya kebetulan kita punya UMKM, dan kita punya Gerai Dekranasda di Mal Pelayanan Publik, hasilnya bisa dititip di sana. Inkubasi kewirausahaan ini membuktikan kepada masyarakat bahwa disabilitas mampu produktif dan berdaya," pungkasnya.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta disabilitas secara bertahap mencakup pelatihan kerajinan ecoprint, literasi digitalisasi pemasaran, hingga penyusunan rencana bisnis (business plan) yang adaptif. (setya)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....