Lapas Tarakan Efektifkan Program Pembinaan Residivis

  • 28 Jul 2026 19:11 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN : Sekitar 100 warga binaan di Lapas Kelas IIA Tarakan terdata belum mampu membaca dan menulis. Untuk itu, Lapas Kelas IIA Tarakan berupaya efektifkan pembinaan baca tulis agar menjadi bekal penting warga binaan setelah bebas dan tidak kembali melakukan tindak pidana.

Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan, Kesehatan dan Perawatan (Bimkemaswa) Lapas Kelas IIA Tarakan, Taufik Rowandy, mengatakan pembinaan dibagi menjadi dua yakni kepribadian dan kemandirian.

Ia menjelaskan pembinaan kepribadian diisi dengan kegiatan keagamaan sesuai kepercayaan masing-masing yang dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sejumlah pihak ketiga.

"Program pembinaan untuk menekan angka residivis kami lakukan lewat pembinaan kepribadian dan kemandirian. Untuk pembinaan kepribadian, warga binaan mengikuti kegiatan keagamaan sesuai agamanya masing-masing dan kami bekerja sama dengan Kementerian Agama serta pihak terkait," ujarnya.

Selain pembinaan keagamaan, Lapas Tarakan menjalankan program pemberantasan buta huruf bagi warga binaan yang belum mampu membaca dan menulis. Program ini dikembangkan setelah lapas mengevaluasi sejumlah faktor yang memengaruhi narapidana kembali menjalani hukuman.

"Kami menemukan ada warga binaan yang kembali menjadi residivis karena sulit beradaptasi dengan kehidupan di luar. Salah satu penyebabnya karena tidak bisa membaca, sehingga program pemberantasan buta huruf menjadi salah satu yang kami perkuat," katanya.

Hasil penelusuran Lapas Tarakan menunjukkan residivis dipengaruhi berbagai faktor. Selain kondisi ekonomi dan lingkungan, kemampuan beradaptasi setelah kembali ke masyarakat turut menjadi tantangan bagi sebagian warga binaan.

Kemampuan membaca dan menulis dinilai menjadi bekal dasar yang perlu dimiliki sebelum mereka menyelesaikan masa pidana.

Pada awal pelaksanaan program, sekitar 100 warga binaan belum mampu membaca. Seiring pembinaan berjalan, jumlah itu terus berkurang.

Warga binaan mulai dapat mengenal huruf dan membaca, kemudian melanjutkan pembelajaran menulis secara bertahap.

"Awalnya ada sekitar 100 orang yang kami data belum bisa membaca. Alhamdulillah sekarang jumlahnya terus berkurang. Yang sebelumnya belum bisa membaca sudah mulai bisa, kemudian mereka lanjut belajar menulis," bebernya.

Selain pemberantasan buta huruf, Lapas Tarakan menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan bagi warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan formal.

Untuk pembinaan kerohanian diikuti 1.332 orang (seluruh Tahanan, Narapidana dan Anak Binaan). Kemudian pembinaan keaksaraan fungsional terdapat 35 orang. Sementara pembinaan pendidikan non formal paket A, B dan C diikuti 15 orang.

Seluruh proses pembelajaran dilaksanakan bekerja sama dengan pihak ketiga yang menyediakan tenaga pengajar. "Kami juga mengadakan program pendidikan kesetaraan atau Paket. Seluruh pengajarnya berasal dari pihak ketiga yang bekerja sama dengan kami," tuturnya. (CRZ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....