DKPP Tarakan Kerahkan 33 Petugas, Awasi Pemotongan Hewan Kurban

  • 27 Mei 2026 18:06 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tarakan mengerahkan 33 petugas untuk mengawasi proses pemotongan hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan dan di masjid-masjid.

Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah dirayakan umat Islam pada Rabu (27/5/2026). Pemotongan hewan kurban sapi dan kambing menjadi tradisi yang tidak boleh dilewatkan.

DKPP Tarakan turut mengawasi. Langkah ini dilakukan guna memastikan hewan kurban yang disembelih memenuhi syarat syariah dan aman dikonsumsi.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Tarakan, Paulus, mengatakan khusus di RPH, pendaftaran pemotongan hewan kurban sudah dibuka sejak Selasa (26/5/2026). Masyarakat bisa mendaftar langsung ke RPH atau melalui WhatsApp.

"Begitu datang bawa sapi, kami kasih nomor antrean. Yang datang duluan dengan nomor pendaftaran akan masuk duluan untuk dipotong. Sebelum itu, semua hewan sudah dicek gigi, umur, cacat fisik, dan kesehatannya," jelas Paulus.

Pemeriksaan ante mortem dilakukan sebelum pemotongan oleh petugas lapangan. Setelah disembelih, dilakukan pemeriksaan post mortem berupa pengambilan sampel hati untuk memastikan daging layak konsumsi. Tim dokter hewan juga disiagakan di lokasi.

Sejauh ini belum ditemukan kasus berat. Jika ditemukan bagian organ yang rusak, seperti cacing hati, bagian itu akan dibuang. "Kalau seluruh bagian bermasalah dan bisa memengaruhi lainnya, kami sarankan tidak dikonsumsi," katanya.

Sebanyak 11 petugas khusus ditempatkan di RPH untuk mengawasi proses pemotongan. Sementara petugas lain disebar ke masjid-masjid dan titik pemotongan di kelurahan. Koordinasi dengan kepolisian juga dilakukan sejak awal bulan untuk pemantauan.

Berdasarkan data yang masuk, stok hewan kurban di Tarakan tercatat 1.494 ekor. Jumlah total hewan yang dipotong baru akan diketahui Jumat, 30 Mei setelah seluruh laporan dari lapangan masuk. "Kami targetkan data lengkap bisa kami sampaikan Jumat. Harapannya ada peningkatan jumlah kurban dibanding tahun lalu," jelas Paulus.

Sementara itu, Medik Veteriner DKPP Tarakan, drh. Richard Alfonsus Saroha S menyebut sejauh ini temuan kasus masih minim. Pemeriksaan dilakukan ketat agar daging yang sampai ke masyarakat aman dikonsumsi.

“Kalau sejauh ini baru tiga atau empat ekor yang ditemukan ada pembesaran organ. Biasanya setiap tahun ada kasus cacing hati. Kalau bagian yang rusak, kita buang. Kalau sebagian saja yang rusak, kita sisihkan. Tapi kalau semuanya bermasalah dan bisa berpengaruh ke bagian lain, kita sarankan tidak dikonsumsi," beber dr. Richard.

Menurutnya, masyarakat yang hewan kurbannya ditemukan kelainan, cukup kooperatif. Mereka langsung menerima arahan petugas dan tidak memaksakan daging tersebut untuk dibagikan. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....