Mengaku Beriman, Siap-Siap Hadapi Ujian dari Allah SWT
- 15 Apr 2026 14:26 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Pengakuan iman seseorang tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa adanya pembuktian melalui ujian. Hal itu disampaikan Ustaz Ibrahim, nara sumber "Religi Pagi" RRI Tarakan, belum lama ini.
Mengutip Surah Al-Ankabut ayat 2, ia menjelaskan bahwa setiap muslim yang menyatakan dirinya beriman harus bersiap menghadapi berbagai dinamika kehidupan sebagai bentuk validasi ketakwaan. "Ujian yang diberikan Allah bukanlah bentuk penganiayaan atau ketidaksukaan Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Sebaliknya, ujian tersebut berfungsi untuk melihat sejauh mana kejujuran pengakuan iman seseorang dalam kehidupan nyata. Hal ini penting agar iman tidak hanya berhenti di lisan, tetapi juga terefleksi dalam setiap perbuatan sehari-hari," ujarnya.
Salah satu bentuk ujian utama adalah rasa takut atau khawatir, baik takut akan kemiskinan, kehilangan jabatan, hingga terhadap kematian. Ustaz Ibrahim mengingatkan bahwa bagi orang beriman, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan, melainkan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya bekal amal ibadah.
Selain rasa takut, kekurangan harta dan kehilangan anggota keluarga juga menjadi ujian yang kerap kali mengguncang hati manusia. Namun, Islam memberikan solusi konkret dalam menghadapi hal tersebut, yaitu dengan kesabaran. Sabar menjadi kunci utama agar seorang hamba tetap berdiri tegak meski badai musibah menerjang.
"Salah satu prinsip penting yang ditekankan adalah bahwa Allah tidak akan pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Analogi yang diberikan adalah seperti seorang guru yang tidak mungkin memberikan soal ujian kelas 6 kepada murid kelas 1 SD. Allah Maha Tahu akan kapasitas bahu setiap hamba-Nya," bebernya.
Ia juga menyoroti fenomena keputusasaan yang berujung pada tindakan ekstrem seperti bunuh diri. Tindakan itu bukanlah solusi, melainkan awal dari masalah yang jauh lebih berat di akhirat kelak. Keputusasaan seringkali muncul karena manusia mengukur kekuatan hanya dari kemampuan dirinya sendiri tanpa menyertakan Allah.
Untuk menjaga keteguhan hati, umat Islam diajak senantiasa memperbaharui iman. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, iman manusia bersifat fluktuatif—terkadang naik dan terkadang turun. Memperbanyak kalimat Lailahaillallah menjadi salah satu cara efektif untuk terus memupuk cahaya iman di dalam jiwa.
Beliau juga mengingatkan bahwa ujian tidak selalu berbentuk penderitaan atau musibah. Kesenangan, kekayaan, dan jabatan yang tinggi juga merupakan ujian tak kalah berat. Contohnya adalah Firaun yang gagal melewati ujian kekuasaan, berbanding terbalik dengan Nabi Sulaiman yang tetap rendah hati meski memiliki segalanya.
Sebagai penutup, Ustaz Ibrahim mengajak seluruh pendengar untuk selalu bersikap husnudzon atau berprasangka baik kepada Allah. Dengan menyandarkan segala urusan kepada-Nya dan mengucapkan kalimat Innalillahi wa innailaihi raji'un saat ditimpa kesulitan. Seorang mukmin akan mendapatkan ketenangan dan hikmah yang luar biasa. (Renny)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....