Kurangi Sifat Konsumtif Perbanyaklah Empati
- 20 Feb 2026 19:09 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Fenomena meningkatnya konsumsi masyarakat saat bulan Ramadan menjadi sorotan dalam diskusi hangat dialog Ramahdan di RRI Tarakan bersama Ustaz Abdul Basit. Dalam sesi tanya jawab, seorang warga Dede di Markoni mempertanyakan mengapa umat muslim justru cenderung lebih boros saat berpuasa. Hal ini dianggap kontradiktif dengan esensi puasa yang seharusnya melatih kesederhanaan dan pengendalian diri.
Ustaz Abdul Basit membenarkan bahwa secara logika, konsumsi seharusnya menurun karena intensitas makan berkurang. Namun, nafsu yang belum terkendali sering kali membuat seseorang merasa ingin memakan segalanya saat waktu berbuka tiba. Inilah yang menyebabkan "lapar mata" dan berujung pada perilaku konsumtif yang berlebihan bahkan mubazir.
Ia menekankan bahwa puasa adalah pelatihan pengendalian diri (self-control). Jika seseorang tidak berhasil menahan nafsunya saat belanja takjil, maka ia belum sepenuhnya meraih esensi puasa. Ramadan seharusnya menjadi ajang efisiensi ekonomi, di mana pengeluaran untuk makan dialihkan untuk kebutuhan sosial yang lebih mendesak seperti zakat dan sedekah.
"Banyak makanan yang terbuang saat Ramadan, padahal di luar sana banyak saudara kita yang kekurangan," ujar Ustaz Abdul Basit. Beliau mengajak masyarakat untuk mengubah gaya hidup konsumtif menjadi gaya hidup empatik. Memberi makan orang yang berbuka puasa atau menyisihkan uang untuk infak jauh lebih utama daripada memenuhi meja makan dengan hidangan yang tidak termakan.
Selain pengendalian nafsu makan, pengolahan harta juga disinggung melalui kewajiban zakat fitrah. Ramadan adalah momen untuk mensucikan jiwa sekaligus harta dari cara-cara perolehan yang mungkin kurang sempurna di masa lalu. Zakat menjadi instrumen pembersih yang menghubungkan antara kesalehan individu dengan kesalehan sosial.
Masyarakat diingatkan bahwa esensi keberhasilan puasa adalah ketika seseorang mampu mem-manage nafsunya, bukan hanya saat Ramadan, tapi juga setelahnya. Pola hidup sederhana yang dilatih selama sebulan penuh diharapkan menjadi kebiasaan baru. Dengan demikian, Ramadan tidak lagi menjadi beban ekonomi, melainkan solusi bagi kesejahteraan umat melalui semangat berbagi.
Harapannya, melalui peringatan ini, warga Tarakan dan sekitarnya dapat lebih bijak dalam berbelanja selama bulan suci. Kesederhanaan saat berbuka tidak akan mengurangi kenikmatan puasa, justru akan menambah ketenangan batin. Mari jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk lebih peduli pada sesama daripada sekadar memuaskan selera pribadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....