BMKG Ingatkan Waspada Puncak Musim Kemarau di Tarakan
- 19 Agt 2026 09:58 WIB
- Tarakan
Poin Utama
- Dampak El Nino
RRI.CO.ID, Tarakan - Kepala BMKG Kota Tarakan, Muhammad Sulam Hilmi, memberikan pemaparan penting mengenai fenomena cuaca yang tengah melanda Kota Tarakan belakangan ini. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat saat ini wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Utara, sedang memasuki periode puncak musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Hilmi menjelaskan bahwa meskipun suhu udara tercatat masih dalam batas normal, yakni berkisar 32 hingga 33 derajat Celsius, masyarakat merasakan panas yang lebih menyengat. Hal ini disebabkan oleh udara kering yang bergerak ke wilayah Kalimantan tanpa membawa uap air, sehingga kelembapan udara turun drastis dan membuat suhu terasa jauh lebih panas.
Kondisi ini semakin diperparah dengan fenomena El Nino yang diprediksi dapat berdampak lebih signifikan pada tahun ini jika terjadi berbarengan dengan musim kemarau. Meskipun Tarakan secara umum tidak memiliki musim kemarau yang ekstrem, fenomena periodik Juli hingga September tetap membawa tantangan berupa risiko kekeringan dan penurunan kualitas udara.
"Ini menjadi tantangan bagi kita semua. Dampak bisa lebih signifikan daripada musim kemarau sebelumnya karena kandungan uap air di udara berkurang, sehingga kelembapannya turun," tutur Hilmi.
Lebih lanjut, pemantauan kualitas udara melalui PM 2,5 menunjukkan angka sedang, yang dipengaruhi bukan hanya oleh titik panas lokal di Tarakan, tetapi juga kiriman asap dari wilayah selatan seperti Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah akibat arah angin dominan dari selatan ke utara. Jarak pandang pun dilaporkan sempat mengalami penurunan.
Menghadapi sisa tahun 2026, Hilmi menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dan hemat dalam penggunaan air. Ia juga menekankan bahwa momen saat curah hujan tinggi seharusnya dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemerintah untuk memanen air hujan dan menyimpannya dalam tandon-tandon agar dapat digunakan saat periode kering tiba.
Sebagai penutup, Hilmi kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan tetap waspada terhadap potensi kebakaran lahan, terutama jika hari tanpa hujan sudah mencapai lebih dari tiga hari, yang secara signifikan meningkatkan kerentanan lahan untuk terbakar. (ADR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....