Mimbar Buddha RRI, Bedah Bakti Dhama pada Orang Tua

  • 30 Jul 2026 18:57 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Penyesalan sering kali baru datang ketika ruang dan waktu tak lagi berpihak pada manusia. Kesadaran mendalam inilah yang digarisbawahi oleh penceramah Rudi Pratama saat mengisi siaran Mimbar Agama Buddha di Pro 1 LPP RRI Tarakan, Selasa (28/07/2026).

Dalam pemaparannya, Rudi menekankan pentingnya bagi setiap umat untuk memaknai arti bakti secara utuh. Sikap berbakti tersebut harus diwujudkan, baik ketika orang tua masih mendampingi di dunia maupun setelah berpulang ke alam berikutnya.

Guna memperkuat penjelasannya, Rudi mengutip kitab suci Dhammapada ayat 332. Ayat tersebut menegaskan bahwa berbakti kepada ibu dan ayah merupakan kebahagiaan sejati di dunia ini, melampaui gemerlap kekayaan materi atau tingginya jabatan.

Menurutnya, terdapat sejumlah kewajiban moral mendasar yang tak boleh diabaikan oleh seorang anak. Hal tersebut meliputi merawat orang tua di usia lanjut, menjaga nama baik keluarga, serta memelihara harta warisan dengan bijaksana.

"Bahwa ketika orang tua telah meninggal dunia, rasa bakti seorang anak tidak lantas terputus begitu saja. Ajaran Buddha menyediakan ruang spiritual melalui tradisi pelimpahan jasa atau yang dikenal dengan istilah pattidāna," beber Rudi.

Merujuk pada kisah klasik dalam Tirokuḍḍa Sutta, ia menceritakan pengalaman Raja Bimbisāra. Raja kala itu melakukan pelimpahan jasa kepada sanak keluarga masa lalunya yang terlahir sebagai makhluk menderita (peta), sehingga mereka memperoleh kondisi kehidupan yang lebih baik.

Rudi menjelaskan bahwa tradisi pelimpahan jasa senantiasa harus diawali dengan aksi nyata kebajikan. Bentuk kebajikan tersebut dapat berupa kegiatan berdana kepada Saṅgha, membantu fakir miskin, merawat lingkungan, hingga aksi pelayanan sosial.

Aksi sosial dan kebajikan tersebut wajib dilakukan dengan niat yang tulus ikhlas tanpa mengharapkan pujian. Kebajikan inilah yang nantinya menjadi dasar utama dalam melimpahkan jasa kepada leluhur.

Rangkaian kebajikan tersebut kemudian disempurnakan dengan pendarasan doa khusus. Doa yang diucapkan yaitu "Idaṃ no ñātinaṃ hotu, sukhitā hontu ñātayo" yang memiliki arti semoga jasa kebajikan ini menjadi milik sanak keluarga dan mereka berbahagia.

Di akhir ulasannya pada siaran RRI Pro 1 Tarakan, Rudi Pratama kembali mengingatkan agar umat tidak hanya berfokus pada upacara setelah kematian. Paling utama adalah memberikan perhatian, tutur kata yang lembut, dan kasih sayang nyata sewaktu orang tua masih bernapas. (Rustam)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....