Mimbar Agama Buddha: Rudy Pratama Ajak Umat Jaga Perdamaian

  • 28 Mei 2026 19:17 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN - Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Rudy Pratama, S.Ag., menyampaikan pesan damai dalam program siaran Mimbar Agama Buddha di Pro 1 Tarakan. Dalam siaran tersebut, Rudy menyoroti relevansi tema Waisak 2570 Buddhist Era yang diangkat oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia. Tema yang diusung pada momentum suci ini adalah "Dharma Menjaga Perdamaian Dunia".

Menurut Rudy, tema tersebut sangat krusial untuk digaungkan kembali di tengah situasi global yang penuh dengan dinamika negatif. Saat ini, masyarakat dunia masih terus dihadapkan pada berbagai konflik horizontal, aksi kekerasan, pertentangan antar-kelompok, perpecahan, serta krisis moral dan kemanusiaan yang memprihatinkan. Melalui momentum Waisak, umat diajak menjadikan Dharma sebagai penuntun spiritual yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemajuan teknologi yang pesat saat ini dinilai belum selaras dengan perkembangan moral manusia. Kehadiran media sosial yang seharusnya menjadi wadah untuk menebarkan kebaikan dan mempererat silaturahmi, justru kerap disalahgunakan. Fenomena penyebaran konten kebencian, fitnah, penghinaan, hingga provokasi permusuhan menjadi bukti nyata adanya krisis batin yang sedang melanda manusia modern saat ini.

Menyikapi fenomena sosial tersebut, Rudy mengingatkan kembali esensi khotbah Sang Buddha mengenai akar dari segala bentuk penderitaan. "Sang Buddha telah mengingatkan bahwa sumber utama penderitaan manusia adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin," ujarnya . Beliau menambahkan bahwa selama ketiga akar kejahatan itu mendominasi pikiran, maka perdamaian sejati akan sangat sulit untuk diwujudkan.

Sebagai penutup, Rudy mengajak seluruh pendengar dan umat Buddha untuk mulai mengimplementasikan nilai-nilai Dharma dari lingkungan terkecil. Perdamaian sejati tidak akan pernah tercipta melalui paksaan atau kekerasan, melainkan lahir dari hati yang bersih dan penuh kebijaksanaan. Melalui praktik nyata seperti cinta kasih universal (Mettā) dan welas asih (Karuṇā), umat dapat berkontribusi aktif dalam merajut kedamaian dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....