Krisis Sosial, Penyuluh Agama Buddha Ingatkan Sigalovada Sutta

  • 20 Mei 2026 12:11 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, TARAKAN – Perkembangan teknologi yang pesat di era modern kerap memicu renggangnya hubungan antarmanusia, mulai dari memudarnya rasa hormat anak kepada orang tua hingga maraknya persahabatan yang diukur materi. Menanggapi fenomena ini, Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Aditya Dhammajaya, S.Ag., mengajak masyarakat kembali merefleksikan ajaran moral melalui siaran Mimbar Agama Buddha di RRI Pro 1 Tarakan.

Dalam siarannya, Aditya menyoroti bagaimana banyak orang berhasil secara materi namun kehilangan kedamaian dalam hubungan sosialnya. Menurutnya, kebahagiaan hidup yang sejati bukan ditentukan oleh tingginya jabatan, melainkan dari bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar. Sang Buddha sendiri telah memberikan pedoman hubungan sosial yang harmonis ini sejak 2.500 tahun lalu melalui Sigalovada Sutta.

Dijelaskan bahwa manusia memiliki kewajiban moral yang disimbolkan melalui penghormatan kepada enam arah kehidupan. Enam arah tersebut mencakup hubungan interpersonal dengan orang tua, guru, keluarga, sahabat, pembimbing spiritual, hingga para pekerja atau bawahan. Nilai-nilai inilah yang dinilai mampu menjadi penawar di tengah individualisme era digital.

"Dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki moral, rasa hormat, dan cinta kasih," ujar Aditya Dhammajaya.

Melalui momentum mimbar agama ini, umat Buddha dan seluruh lapisan masyarakat di Tarakan diharapkan dapat mengimplementasikan esensi Sigalovada Sutta. Dengan menjalankan kewajiban terhadap sesama secara tulus, maka tatanan kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan penuh kebajikan dapat terealisasi secara nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....