Lina Temukan Kepercayaan Diri Lewat Goresan Batik Tarakan
- 23 Jan 2026 08:14 WIB
- Tarakan
Tayangan selengkapnya dapat Anda saksikan pada:
RRI.CO.ID, Tarakan - Di tengah hiruk-pikuk Kota Tarakan, Lina duduk tekun menghadapi kain putih yang membentang luas di hadapannya. Wanita penyandang disabilitas ini awalnya didera rasa tidak percaya diri yang sangat besar saat harus berinteraksi dengan dunia luar.
Namun, semua mulai berubah sejak ia memutuskan untuk menggenggam canting dan bergabung dengan Batik D'ERTE milik Soni pada tahun 2019. Kini, kain-kain bermotif tersebut menjadi saksi bisu transformasi pribadinya yang semakin berani menyapa khalayak luas.
Memulai perjalanan dari titik nol tanpa keahlian seni, Lina harus bergelut dengan keterbatasan motorik yang ia miliki sejak lahir. Soni, sang mentor, mengingat betul betapa sulitnya mengajarkan teknik mencanting yang menuntut presisi serta konsentrasi tingkat tinggi.
Kegigihan luar biasa dari Lina perlahan mampu melampaui rasa takut akan kegagalan yang sempat membayanginya. Baginya, setiap tetesan lilin panas di atas kain adalah langkah kecil menuju kemandirian.
Hubungan kuat antara sang mentor dengan para pekerja dari kalangan berkebutuhan khusus ini, membuat Soni bahkan rela mempelajari bahasa isyarat secara autodidak demi meruntuhkan tembok komunikasi dengan para perajin yang menyandang tunarungu.
Kehangatan di bengkel kerja ini menciptakan ruang aman bagi Lina untuk bereksplorasi tanpa perlu merasa takut dihakimi. Di sinilah, bahasa hati sering kali terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata yang terucap.
Menariknya, Lina sering kali menuangkan imajinasi seninya secara spontan ke atas kain tanpa mengikuti rencana motif kaku. Dari jemari lentiknya, lahirlah motif bertema flora dan fauna yang mencerminkan kekayaan alam endemik Kalimantan Utara yang sangat mempesona.
Setiap motif yang dihasilkan bukan hanya sekadar hiasan estetis, melainkan representasi emosi yang sulit ia ungkapkan melalui kata-kata. Membatik telah menjadi cara baru bagi Lina untuk bercerita tentang keindahan dunia dari sudut pandangnya.
Perjalanan kreatif Lina tidak selalu berjalan mulus, terutama saat ia harus menghadapi kegagalan produksi dalam jumlah besar. Soni menceritakan momen ketika ratusan potong kain gagal diproduksi, namun ia memilih tidak marah demi menjaga kondisi mental perajinnya.
Alih-alih memberikan teguran keras, Soni justru memberikan dorongan moral agar Lina dan rekan-rekan difabel lainnya tetap berani mencoba. Kegagalan tersebut dianggap sebagai biaya investasi berharga demi lahirnya jiwa-jiwa perajin yang lebih tangguh.
Kehadiran Lina di bengkel Batik D' ERTE juga membawa perspektif kemanusiaan baru bagi para pelanggan yang datang berkunjung langsung. Konsumen kini tidak hanya membeli sehelai kain batik, tetapi juga ikut mengapresiasi perjuangan hidup dan ketulusan di balik goresannya.
Ada rasa bangga yang menyelinap di hati Lina saat mengetahui karya tangannya dihargai serta dipakai oleh banyak orang penting. Hal ini menjadi suntikan semangat baru baginya untuk terus berkarya.
Kini, mimpi besar Lina sudah melambung jauh lebih tinggi dari sekadar menjadi seorang pekerja kreatif di bengkel. Ia memiliki harapan tulus untuk suatu saat nanti bisa membangun usaha mandiri dan merangkul sesama penyandang disabilitas lainnya.
Melalui seni membatik, Lina telah menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang ditelan keraguan selama bertahun-tahun lamanya. Perjuangan ini membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, setiap manusia mampu melukis masa depan yang indah. (Andrey R)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....