Soni Rangkul Penyandang Disabilitas Melalui Karya Batik Tarakan
- 23 Jan 2026 07:52 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Di sudut Kota Tarakan, Kalimantan Utara, sebuah bengkel kreatif bernama Batik D'ERTE menjadi saksi bisu perjuangan kemanusiaan yang mendalam. Soni, sang pemilik usaha, memulai perjalanan ini sejak tahun 2011 dengan misi yang melampaui sekadar mencari keuntungan materi semata.
Baginya, selembar kain batik bukan hanya produk komersial, melainkan media untuk membangkitkan asa bagi mereka yang sering kali terpinggirkan oleh keadaan sosial.
Pendekatan humanis Soni terlihat jelas dari keputusannya dalam membuka pintu lebar-lebar bagi kelompok masyarakat berkebutuhan khusus. Fokus utamanya adalah memberdayakan penyandang disabilitas agar mereka memiliki keterampilan dan kemandirian ekonomi. Soni meyakini bahwa setiap manusia memiliki potensi unik yang sering kali hanya membutuhkan ruang serta diberi kesempatan untuk bersinar.
| Baca juga: Mari Mengenal Penyadang Disabilitas Netra |
Salah satu sosok inspiratif di balik indahnya motif Batik D'ERTE adalah Lina, seorang perajin disabilitas yang telah bergabung sejak tahun 2019. Meski awalnya tidak memiliki dasar seni membatik, semangatnya terpacu setelah melihat ajakan terbuka dari Soni melalui unggahan di media sosial. Kini, Lina telah mahir melukis pola-pola rumit di atas kain, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah jadi penghalang besar untuk ciptakan sebuah karya seni bernilai tinggi.
Proses melatih para perajin disabilitas tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi Soni, yang menuntut tingkat kesabaran yang sangat luar biasa. Ia bahkan rela belajar bahasa isyarat secara autodidak demi bisa berkomunikasi secara efektif dengan para perajin yang menyandang tunarungu di bengkelnya. Baginya, jembatan komunikasi tersebut sangat krusial agar ilmu membatik yang ia miliki dapat tersampaikan dengan hati dan dipahami tanpa ada batasan.
Karya-karya yang dihasilkan pun sangat istimewa karena kental akan filosofi kearifan lokal suku Tidung serta flora dan fauna endemik. Motif seperti Tanduk Galung dan perahu Padau Tuju Dulung menjadi identitas kuat yang dilestarikan oleh tangan-tangan kreatif para perajin difabel ini. Setiap goresan lilin di atas kain menceritakan tentang kekayaan budaya daerah sekaligus ketangguhan jiwa sang pembuat dalam menghadapi berbagai stigma negatif masyarakat.
Soni begitu konsisten mengedukasi para pelanggan mengenai narasi dan proses mendalam yang ada di balik setiap helai kain batiknya.
Ia menekankan bahwa "nilai sebuah batik bukan hanya terletak pada bahan bakunya, melainkan pada dedikasi dan cinta dari para pembuatnya."
Pendekatan ini berhasil menyentuh sisi empati konsumen, yang kini mulai lebih menghargai proses kreatif manusiawi dibandingkan sekadar melihat hasil akhir produk.
Melalui Podcast Frekuensi di RRI Tarakan bertajuk "Melukis Asa di Atas Kain", Soni bermimpi agar para perajin disabilitas kelak bisa berdiri tegak dengan usaha mandiri. Ia berharap masyarakat dapat terus mendukung potensi luar biasa di balik kekurangan yang dimiliki oleh teman-teman difabel dalam industri kreatif nasional.
Upaya tulus ini menjadi bukti nyata bahwa perpaduan seni dan kepedulian mampu menciptakan masa depan yang lebih cerah dan bermartabat. (Andrey R)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....