Lebaran di Salimbatu: Tradisi, Rindu, dan Suasana Silaturahmi
- 26 Mar 2026 13:13 WIB
- Tarakan
Poin Utama
- Salimbatu, Lebaran
RRI.CO.ID, Tarakan - Bagi Harnani, warga asal Tarakan, gemuruh mesin speedboat yang membelah perairan menuju Desa Salimbatu, Tanjung Palas Tengah, adalah melodi rindu yang selalu dinanti. Lebaran tahun ini, ia kembali memboyong suami dan putri tercintanya untuk menapak tilas akar keluarga di tanah kelahiran. Baginya, pulang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan upaya merawat ingatan dan kasih sayang yang tak boleh luntur oleh jarak.
Setibanya di desa, pelukan hangat sang Ibu dan sapaan akrab Abangnya menjadi penawar lelah setelah perjalanan jauh dari kota. Suasana rumah yang sederhana namun penuh kehangatan seketika menghidupkan kembali kenangan masa kecil Harnani. Momen ini menjadi ruang bagi keluarga kecilnya untuk sejenak melepas penat dari rutinitas perkotaan, sembari menikmati hidangan khas Lebaran yang hanya terasa otentik di tangan sang Ibunda.
Ritual mudik ini pun tak lengkap tanpa mengunjungi "rumah masa lalu" yang sunyi. Di bawah langit Salimbatu, Harnani bersama suami dan anaknya bersimpuh di pusara sang Ayah serta kerabat lainnya yang telah berpulang. Lantunan doa dan taburan bunga menjadi simbol bakti yang terus terjaga, sebuah pelajaran berharga bagi sang buah hati tentang pentingnya menghargai garis keturunan dan menghormati mereka yang telah tiada.
Harnani mengungkapkan bahwa perjalanan ini telah menjadi agenda wajib yang dikunci rapat dalam kalender keluarga kecilnya setiap tahun. Namun, realita tak selalu semudah rencana; mereka harus lihai bersiasat dengan waktu. "Kami harus menyesuaikan dengan jadwal cuti kerja suami dan masa libur sekolah anak agar semua bisa berangkat bersama," ujarnya dengan nada penuh syukur karena tahun ini rencana tersebut terealisasi.
Namun, ada yang terasa berbeda pada perayaan Idulfitri di Salimbatu kali ini. Jika biasanya keriuhan Lebaran di desa ini bisa bertahan hingga empat hari dengan arus tamu yang tak putus, tahun ini suasana terasa lebih cepat melandai. Harnani merasakan adanya perubahan ritme sosial yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana sapaan hangat antar tetangga terasa sedikit berkurang intensitasnya.
Menurut pengamatannya, banyak sanak saudara dan warga lainnya yang berhalangan hadir atau tidak bisa pulang kampung pada momen kali ini. Hal ini menyebabkan puncak keramaian Lebaran di desa tersebut hanya terasa padat dalam satu hingga dua hari saja. Setelah itu, kesunyian mulai merayap kembali, sebuah kontras yang cukup mencolok bagi mereka yang terbiasa dengan kemeriahan panjang khas pedesaan.
Meski durasi keramaian terasa lebih singkat, bagi Harnani esensi kemenangan tetap tidak berkurang sedikit pun. Bertemu orang tua dan berziarah adalah inti dari perjalanannya, terlepas dari seberapa riuh suasana di luar sana. Baginya, satu hari yang berkualitas bersama Ibu jauh lebih berharga daripada berhari-hari keramaian tanpa makna, menutup perjalanan mudiknya dengan kedamaian di hati. (ADR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....