Misi Dagang Jatim-Kaltara Nyaris Rp2 Triliun, Sarang Walet dan Udang Jadi Bidikan
- 08 Sep 2026 22:27 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan – Kerja sama perdagangan antara Kalimantan Utara dan Jawa Timur mulai menghasilkan transaksi bernilai besar. Dalam Forum Temu Bisnis Misi Dagang dan Investasi Jatim-Kaltara 2026 di Tarakan, nilai transaksi yang telah ditandatangani disebut mendekati Rp2 triliun.
Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang mengatakan nilai tersebut masih berpeluang bertambah setelah seluruh rangkaian forum misi dagang selesai. Ia menyebut angka sementara yang tercatat berasal dari sejumlah kerja sama dengan nilai mencapai sekitar Rp1,9 triliun.
“Kalau saya lihat angkanya, ada Rp1,5 triliun, kemudian ada Rp300 miliar dan seterusnya. Kalau dijumlahkan sekitar Rp1,9 triliun. Mudah-mudahan setelah penutupan nanti masih ada tambahan sehingga bisa mencapai Rp2 triliun,” kata Zainal saat memberikan sambutan di Hotel Tarakan Plaza & Convention Centre, Selasa (8/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha dari kedua provinsi serta pemerintah daerah, BUMD dan asosiasi pengusaha. Dalam agenda resmi kegiatan, penandatanganan kerja sama mencakup OPD dengan OPD, BUMD dengan BUMD, serta asosiasi usaha Jawa Timur dengan asosiasi usaha Kalimantan Utara.
Menurut Zainal, nilai transaksi yang terbentuk dalam forum tersebut perlu ditindaklanjuti dengan hubungan perdagangan dan investasi yang berkelanjutan. Ia tidak ingin misi dagang berhenti pada penandatanganan kerja sama atau transaksi dalam satu kegiatan.
“Saya berharap pertemuan ini tidak berhenti sebagai forum silaturahmi dan transaksi sesaat. Kerja sama ini harus menjadi langkah nyata untuk memperluas pasar, meningkatkan investasi dan membangun kemitraan antara dunia usaha Jawa Timur dengan Kalimantan Utara,” ujarnya.
Zainal juga membuka peluang bagi pengusaha Jawa Timur untuk menanamkan modal di Kaltara. Menurut dia, pemerintah daerah siap membantu proses investasi, termasuk dari sisi perizinan.
“Kalimantan Utara memiliki banyak peluang investasi. Saya mengajak dunia usaha Jawa Timur untuk melihat dan berinvestasi di Kaltara. Kalau ada perusahaan dari Jawa Timur yang masuk, kami akan membantu mempercepat proses perizinan dan kebutuhan lainnya,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan mempersulit investor yang ingin masuk ke Kaltara. Menurut Zainal, masih tersedia ruang dan lahan untuk pengembangan berbagai sektor usaha.
“Kami membuka ruang yang luas bagi investor untuk berinvestasi di Kalimantan Utara. Untuk lahan juga masih banyak tersedia. Pemerintah daerah akan membantu agar proses investasi dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Selain investasi, Zainal menilai konektivitas menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan perdagangan kedua wilayah. Ia mendorong optimalisasi arus balik tol laut pada rute Surabaya-Tarakan dan Surabaya-Nunukan agar dapat membawa lebih banyak komoditas dari Kaltara menuju Jawa Timur.
Zainal juga mengungkapkan adanya pembicaraan mengenai rencana pembukaan rute feri langsung dari Surabaya menuju Nunukan. Rute tersebut diharapkan dapat memangkas jalur distribusi karena tidak perlu melewati Makassar.
“Kemarin sudah ada pemilik feri yang berkomunikasi dengan Bupati Nunukan. Mudah-mudahan rute feri dari Surabaya langsung ke Nunukan ini bisa berjalan, tanpa melalui Makassar. Dari Surabaya ke Nunukan, kemudian Tarakan, dan kembali lagi ke Nunukan maupun Surabaya,” katanya.
Menurut dia, tambahan rute dan armada angkutan laut akan memberikan pilihan distribusi baru bagi pelaku usaha. Konektivitas tersebut dinilai dapat memperlancar pergerakan barang sekaligus memperkuat hubungan ekonomi Jatim dan Kaltara.
“Saya yakin dengan penambahan rute dan armada feri, perekonomian antara Jawa Timur dan Kalimantan Utara bisa semakin meningkat. Arus barang harus kita manfaatkan sebaik mungkin sehingga kerja sama perdagangan tidak berhenti pada forum ini,” ujar Zainal.
Zainal turut menawarkan sejumlah potensi komoditas Kaltara kepada pelaku usaha Jawa Timur. Ia menyebut sektor perikanan, hasil laut, kehutanan dan pertanian sebagai bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan.
Ia mencontohkan produk bandeng dan udang dari Kaltara yang menurutnya memiliki karakteristik berbeda karena sebagian tambak dikelola dengan mengandalkan sumber pakan alami. Kaltara juga memiliki beras Adan dari Krayan yang disebut sebagai salah satu produk pertanian unggulan daerah.
“Produk perikanan seperti bandeng dan udang memiliki potensi besar. Di Kaltara ukuran tambaknya juga relatif luas dan pola pengelolaannya berbeda. Banyak yang mengandalkan plankton dan lumut sebagai pakan alami,” ucapnya.
Beras Adan dari Krayan, lanjut Zainal, juga menjadi salah satu komoditas yang dapat diperkenalkan kepada pasar Jawa Timur. Ia bahkan mengajak peserta misi dagang untuk mencoba langsung produk tersebut.
“Beras Adan dari Krayan juga organik. Nanti kalau ada kesempatan, silakan dibawa sebagai oleh-oleh. Satu kilogram saja, jangan satu karung. Kalau mau satu karung, silakan membeli sendiri,” katanya disambut tawa peserta.
Zainal berharap kerja sama yang terbangun antara Jatim dan Kaltara memiliki kesinambungan lintas pemerintahan. Menurut dia, hubungan ekonomi antardaerah tidak semestinya bergantung pada siapa gubernur yang sedang menjabat.
“Siapa pun nanti gubernurnya, kerja sama ini harus tetap berlanjut. Bukan soal Ibu Khofifah di Jawa Timur atau Zainal Paliwang di Kalimantan Utara. Yang kita harapkan adalah kerja sama ini terus berjalan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur maupun Kalimantan Utara,” pungkasnya.
Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur dengan Kalimantan Utara 2026 digelar di Hotel Tarakan Plaza & Convention Centre pada 8 September 2026. Kegiatan tersebut memang diarahkan untuk memperluas jaringan pasar produk unggulan daerah dan memperkuat kerja sama perdagangan antarpulau kedua provinsi.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong pelaku usaha Jawa Timur melihat peluang tersebut, terutama dengan dukungan jaringan trader dan buyer yang telah dimiliki Jawa Timur.
Khofifah mengatakan sarang burung walet menjadi salah satu komoditas Kaltara yang berpeluang dikembangkan untuk pasar luar negeri. Namun, potensi tersebut belum muncul dalam kerja sama perdagangan yang dibahas pada Misi Dagang dan Investasi Jatim-Kaltara di Tarakan.
“Pak Ketua DPRD baru saja menyampaikan, sarang burung walet, Kaltara ini gudangnya. Tapi saya belum melihat ada transaksi sarang burung walet. Dua bulan lalu kami baru melakukan misi dagang di Hong Kong dan berhasil membuka transaksi produk sarang burung walet. Ini bisa menjadi peluang untuk mempertemukan potensi yang ada di Kaltara dengan jaringan perdagangan yang sudah terbentuk,” kata Khofifah, Selasa (8/9/2026).
Menurut Khofifah, pengalaman Jawa Timur di Hong Kong menunjukkan pasar sarang burung walet masih terbuka. Jaringan yang terbentuk juga berkembang dari sisi trader maupun buyer, tidak lagi terbatas pada satu negara.
“Trader-nya makin banyak yang mengikuti transaksi dan buyer-nya juga dari beberapa negara. Bukan dari Hong Kong saja, tetapi kita juga menemukan dari RRT dan Korea Selatan. Apa yang kami sampaikan ini bisa menjadi catatan penting bagi trader dan buyer dari Jawa Timur untuk melakukan langkah tindak lanjut terhadap potensi sarang burung walet yang ada di Kaltara,” ujarnya.
Khofifah menilai persoalan perdagangan antardaerah tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan komoditas. Tantangan lainnya adalah mempertemukan produsen dengan pembeli serta membangun jalur perdagangan yang efisien.
Pengalaman itu, kata dia, ditemukan ketika Jawa Timur melakukan misi dagang ke Gorontalo. Pelaku usaha Jawa Timur menemukan jenis ikan tertentu yang selama ini dibeli dari China, padahal komoditas tersebut berasal dari Gorontalo.
“Dari misi dagang di Gorontalo, Ketua Kadin Jatim menemukan jenis ikan tertentu yang selama ini anggota Kadin membeli dari China. Mereka kaget ternyata China membeli ikan itu dari Gorontalo. Setelah sampai di China, kemudian diimpor oleh kawannya dari Kadin Jatim. Jadi sering di lapangan kita menemukan seperti itu,” katanya.
Pola serupa juga ditemukan pada komoditas batok arang kelapa. Khofifah menyebut permintaan dari Hong Kong terhadap produk tersebut cukup tinggi. Sementara itu, produksi dalam jumlah besar ditemukan di Lampung, Gorontalo dan Sulawesi Utara.
“Ketika kami misi dagang pertama ke Hong Kong sekitar empat tahun lalu, kami menemukan kebutuhan batok arang kelapa sangat tinggi, termasuk dalam bentuk cair. Saat misi dagang ke Lampung, ternyata produk itu sudah diproduksi dalam jumlah cukup besar. Ketika kembali ke Hong Kong, kebutuhannya masih tinggi dan di Gorontalo maupun Sulawesi Utara ternyata jumlah produksinya juga besar,” jelasnya.
Bagi Khofifah, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya membangun jejaring perdagangan antardaerah. Produk yang tersedia di satu daerah dapat dipertemukan dengan pasar melalui jaringan usaha dari daerah lain.
“Nah, inilah sebetulnya penguatan jejaring yang kita harapkan. Apa yang kita tandatangani dan transaksi tadi harus dikembangkan dan diperluas kembali, karena proses untuk bisa membawa produk-produk ini ke luar negeri paling efisien dari Surabaya,” ujarnya.
Surabaya dinilai memiliki posisi strategis sebagai pintu ekspor bagi produk Kaltara. Khofifah menyebut konektivitas jalur tol laut yang melewati Surabaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung distribusi komoditas.
“Bagi Jawa Timur, konektivitas Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara ini sangat penting. Dari 41 kapal jalur tol laut, hari ini 24 lewat Surabaya. Kalau kita ingin ekspor, maka pintunya memang paling efisien dari Surabaya,” katanya.
Khofifah mengajak pengusaha Kaltara tidak berhenti pada pasar antardaerah. Produk-produk unggulan Kaltara, menurutnya, dapat diarahkan masuk ke jaringan perdagangan yang lebih luas dengan memanfaatkan pelaku usaha, konektivitas dan akses pasar yang dimiliki Jawa Timur.
Ia juga menjelaskan peran pemerintah dalam penguatan dunia usaha lebih diarahkan pada pembukaan akses. Pemerintah daerah memiliki keterbatasan untuk menyediakan seluruh kebutuhan modal maupun kemampuan manajerial bagi pelaku usaha.
“Pemprov tidak punya energi untuk bisa menyiapkan akses permodalan. Pemprov juga tidak cukup punya energi untuk memberikan managerial skill bagi pelaku-pelaku usaha, terutama kelas menengah dan atas. Maka yang kita lakukan ini membangun aksesibilitas, akses para pelaku usaha dari Jatim dengan provinsi mitra,” ucapnya.
Menurut Khofifah, keterlibatan sektor swasta menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut konsep creative financing dapat didukung dari peningkatan PAD sekaligus ruang investasi sektor privat.
Kondisi ekonomi Jawa Timur, lanjutnya, juga menunjukkan ruang pertumbuhan yang cukup kuat. Ia menyebut ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen pada kuartal I 2026 dan 5,86 persen pada semester I 2026, yang menurutnya menjadi pertumbuhan tertinggi di antara provinsi-provinsi di Pulau Jawa.
Khofifah berharap kerja sama Jatim dan Kaltara tidak berhenti setelah forum misi dagang selesai. Pelaku usaha masih dapat melakukan penjajakan dan memperdalam peluang kerja sama melalui sesi temu bisnis yang dijadwalkan berlangsung hingga sore hari.
“Rasa kami, kita tumbuh bersama, kita berkembang bersama, kita maju bersama, dan insyaallah kita sejahtera bersama,” pungkas Khofifah.
Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Kalimantan Utara 2026 sendiri mempertemukan pelaku usaha dari kedua provinsi untuk memperluas jaringan pasar produk unggulan serta memperkuat perdagangan antarpulau. Agenda tersebut juga mencakup kerja sama antarpemerintah daerah, BUMD dan asosiasi usaha. (CRZ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....